Selasa, 20 Desember 2011

Manusia Dan Penderitaan


BAB I
PENDAHULUAN


Penderitaan adalah sebuah kata yang sangat dijauhi dan palinb tidak disenangi oleh siapa pun. Penderitaan berasal dari dalam dan dari luar diri manusia atau disebut dengan faktor internal dan eksternal. Setiap manusia mengalami penderitaan. Penderitaan itu datang dari ujian Allah SWT ataupun bala atau siksa Allah SWT kepada manusia.


BAB II
PEMBAHASAN


A.    PENGERTIAN PENDERITAAN

Penderitaan dari kata derita, kata derita berasal dari bahasa sangkerta “dhara” artinya menahan, menanggung. Derita berarti menanggung atau merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Penderitaan itu dapat lahir atau batin atau lahir-batin. Yang termasuk penderitaan itu ialah keluh kesah, kesensaraan, kelaparan, kekenyangan, kepanasan dan lain-lain.
Diantara tanda-tanda orang yang terlalu mencintai dirinya, bila ia tertimpa bencana, mala petaka, keburukan atau kemiskinan serta penderitaan, ia putus asa dan mengira bahwa ia tidak akan mendapat karunia Allah SWT lagi. Firmanya: “Manusia tidak jemu-jemu memohon kebaikan, tetapi jika mereka tertimpa malapetaka/ penderitaan, dia menjadi putus asa lagi putus harapan”. (QS. Fushshilat, 41-49)
Contoh lain, apabila tertimpa mala petaka atau penderitaan dia pun berkeluh kesah atas apa yang menimpa dirinya.
Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi berfikir. Apabila ia tertimpa kesusahan, ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir”. (QS. Al-Ma’arij, 70: 19-21)
Baik dalam Al-Quran maupun kitab suci agama lain banyak surat dan ayat yang menguraikan tentang penderitaan yang dialami manusia itu sebagai peringatan bagi manusia akan adanya penderitaan. Tetapi umumnya manusia itu kurang memperhatikan peringatan tersebut, sehingga manusia mengalami penderitaan tersebut.
Penderitaan tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia, karena setiap orang akan/ pernah mengalami penderitaan. Nasib malang atau penderitaan datang tak akan ditolak, harus diterima apa adanya, kita pasrah kepada Tuhan.
Kasus penderitaan bermacam-macam sesuai dengan liku-liku kehidupan manusia. Dan kasus penderitaan seseorang berbeda dengan orang lain.
Sejak jaman dahulu kasus penderitaan dituangkan dalam bentuk seni, misalnya seni sastra, wayang, drama, musik dan sebagainya. Penderitaan orang dahulu tidak kalah hebat dibandingkan pada zaman teknologi modern.
Dengan mempelajari berbagai kasus penderitaan manusia berarti telah mempelajari sikap, nilai, harga diri, ketamakan, kesombongan orang dan sebagainya. Semuanya itu bermamfaat untuk memperdalam dan memperluas persepsi, tanggapan, wawasan dan penalaran bagi yang mempelajarinya.


B.     PENDERITAAN PADA HATI MANUSIA

Penderitaan dapat pula timbul akiba noda dosa pada hati manusia. Menurut al-Ghazali dalam kitabnya Ihya’ulumuddin, orang yang suka iri hati, hasud dan dengki akan menderita hukuman lahir-batin, dan selalu akan merasa tidak puas dan tidak kenal berterima kasih. Allah SWT telah memberi ilmu dan kekayaan atau kekuasaan-Nya. Karena itu, penderitaan-penderitaan lahir atau pun batin akan selalu menimpa orang-orang yang mempunyai sifat iri hati, hasud, dengki, selama hidupnya sampai akhir kelak.
Untuk mengobati hati yang menderita itu, sebelumnya perlu diketahui tanda-tanda hati yang sedang gelisah. Setiap anggota badan diciptakan untuk melakukan suatu pekerjaan. Apabila hati sakit, maka ia tidak dapat melakukan pekerjaan dengan sempurna; ia kacau dan gelisah. Ciri hati yang tidak dapat melakukan pekerjaan ialah; apabila ia tidak dapat berilmu, berhikmah, mermakrifat mencintai Allah SWT dengan menyembah-Nya, merasa erat dan nikmat mengingat-Nya.
Sehubungan dengan pernyataan ciri-ciri orang yang menderita, Tuhan Berfirman: “Aku tidak menciptakan manusia dan jin itu hanya menyembah kepada-Ku”. (QS. Adz-Dzaariat, 51: 56)
Barang siapa mengerti sesuatu, tetapi tidak mengenal Allah SWT maka sesungguhnya orang itu tidak mengerti apa-apa. Barang siapa yang mempunyai sesuatu yang sangat dicintainya lebih dari mencintai Allah, maka sesungguhnya hatinya sakit.
Firman Allah SWT: “Katakanlah hai Muhammad, apabila oang tuamu, anakmu, saudaramu, istrimu, handai taulanmu, dan harta benda yang kau tumpuk dalam simpanan serta barang dagangan yang engkau khawatirkan ruginya dan rumah tempat tinggal yang kamu senangi itu lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya, dan berjalan di jalan Allah, maka tunggulah sampai perintah Allah datang”. (QS. At-Taubah, 9:24)
Hal lain yang menimbulkan derita terhadap seseorang adalah merasakan suatu keinginan atau dorongan yang tidak dapat diterima atau menimbulkan keresahan, gelisah atau derita. Maka ia pun berusaha menjauhkan diri dari lingkup kesadaran atau perasaanya.
Jadi mengenal atau makrifat kepada Allah SWT yang membawa semangat taat kepada Allah dengan cara menentang hawa nafsu, merupakan obat untuk menyembuhkan penyakit dalam hati (menderita gelisah).





C.    SUMBER PENDERITAAN

1.      Hakikat Manusia
Manusia pada hakikatnya adalah makhluk hidup yang memiliki kepribadian yang tersusun dari peraduan yang tersusun dari perpaduan dan saling hubungan dan pengaruh mempengaruhi antara unsur-unsur jasmani, dan karena itu penderitaan dapat pula terjadi pada tingkat jasmani dan rohani.
Jasmani disebut juga sebagai tubuh, badan, badan wadaq, jasad, materi, wadah, atau unsur konkrit dari pada pribadi. Jasmani merupakan unsur yang hidup pada pribadi manusia. Di dalam otak manusia ada berbagai pusat kemampuan. Panca indera merupakan alat atau jendela atau pintu tubuh manusia sehinnga manusia mampu menerima atau menangkap segala sesuatu yang berada dilingkungan.
Rohani sering disebut dengan istilah lain, seperti jiwa, badan halus, merupakan unsur tang tidak dapat di tangkap oleh panca indera manusia. Dalam kehidupan sehari-hari rohani menjiwai, mendasari, dan memimpin unsur-unsur pribadi manusia.
Rohani memiliki alat dan kemampuan yaitu:
a.       Nafsu
b.      Perasaan
c.       Pikiran
d.      Kemauan

a.       Nafsu
Nafsu adalah semua dorongan yang ditimbul oleh segala macam kebutuhan, termasuk pula instink, sehingga menimbulkan keinginan tidak terlalu jelas. Poedjawifatnah (1984) menemukan antara keinginan dan nafsu. Nafsu dapat menimbulkan gairah hidup pada manusia jika nafsu dipenuhi, akan menimbulkan kepuasan dengan rasa enak dan senang.
Menurut Kasmiran (1985), nafsu menurut kerohanian ada 5 macam nafsu, yaitu:
·         Mutmainnah
·         Ammarah
·         Supiah
·         Lawwamah
·         Kombinasi dari 4 nahsu

ü Mutmainnah yaitu dorongan atau nafsu yang memiliki sifat egosentritugal dengan ciri-ciri ingin berbuat kebaikan, berperikemanusiaan, berbuat etis, adil, tidak mementingkan kepentingan diri sendiri, bijaksana dan selalu mengadakan penyesuaian diri dengan apa yang dihadapi.
ü Amarah adalah dorongan atau nafsu yang memiliki ciri-ciri antara lain: keras hati, keras kepala, lekas marah, suka mencela, suka menentangi , berontak dan cemburu.
ü Supiah adalah dorongan atau nafsu asmara yang ada pada diri seorang manusia. Termasuk didalamnya dorongan berkuasa, keinginan untuk mencampuri urusan orang lain dan keinginan  untuk mempercantik diri.
ü Lawwumah adalah dorongan atau nafsu yang memiliki ciri-ciri antara lain laba, tamak, serakah, suka memfitnah dan malas.
Keempat nafsu itu dimiliki atau berada dalam pribadi manusia, tetapi tidak memiliki kekuatan atau pengaruh yang sama. Intensitas pengaruh masing-masing nafsu itu pada diri manusia di pengaruhi oleh proses sosialisasinya. Khususnya sosialisasi pada masa anak-anak.



b.      Perasaan
Perasaan merupakan gejala psikis, perasaan menyangkut suasana batinlah manusia. Kalau manusia merasa cinta, benci dan sebagainya perasaan cinta dan benci ini tinggal di dalam batin manusia. Perasaan timbul di dalam batin akibat kontak antara manusia dengan lingkungannya. Adanya rangsangan dari lingkungan menimbulkan reaksi dalam kaitan ini adalah reaksi emosional yang tidak sesuai dengan kehendak pribadi manusia, sehingga menimbulkan akibat rasa tidak senang, marah dan sikap negatif.

c.       Pikiran
Pikiran disebut juga akal, budi, dimilikinya pikiran ini memungkinkan manusia mempertimbangkan dan mengambil keputusan berdasarkan alasan-alasan sendiri. Budi atau akal memungkinkan manusia tahu atau mempunyai kebutuhan tentang sesuatu. Tahu berarti menghubungkan secara mental sesuatu dengan sesuatu. Jika hubungan ini sesuai dengan kenyataan yang diketahui, maka pengetahuan itu benar, jika tidak sesuai maka pengetahun itu salah dan orang yang berbuat dikatakan telah berbuat sesuatu yang keliru.

d.      Kemauan
Kemauan disebut juga kehendak. Dimilikinya kemauan atau kehendak dalam diri manusia memungkinkan manusia memilih. Untuk memilih manusia harus tahu apa yang dipengaruhi. Oleh karena itu, kemauan atau kehendak ini dapat dikatakan sebagai pelaksana mengenai apa-apa yang telah di pertimbangkan oleh akal budi dan perasaan.



2.      Dorongan Memenuhi Kebutuhan Sebagai Sumber Penderitaan
Untuk mempertahankan keberadaan serta kehidupannya, manusia dituntun untuk memenuhi kebutuhan yang baik kebutuhan jasmani , rohani, dan sosialnya. Di dalam memenuhi kebutuhan ini nafsu memegang peranan yang penting. Nafsu atau dorongan ini cenderung dituntut dipenuhinya kepuasan dan keinginan. Dalam usaha memenuhi nafsu memegang peranan yang penting. Dalam usaha memenuhi nafsu ini manusia menggunakan daya kehendak, dan akal budi serta perasaan yang dimilikinya untuk memilih dan mempertimbangkan jalan mrncapai objek yang dituju. Kehendak dengan akal budi mempertimbangkan jalan dan materi yang merangsang manusia untuk dapat direalisasikan dalam bentuk perbuatan.
Bila tujuan bisa di penuhi maka rasa kepuasan, kegembiraan dan kesenangan dapat di peroleh. Tetapi bila tujuan tidak dapat di penuhi, maka akan terjadi penyesalan, kesedihan dan penderitaan.


D.    SIKSAAN
Macam siksaan dan bentuk siksaan bertebaran antara bagi buah dari surat Al-Ankabut, antara lain ayat 40, yang menyatakan: “Masing-masing bangsa itu kami siksa dengan ancaman siksaan karena dosa-dosanya. Ada diantaranya kami hujani dengan batu-batu kerikil seperti kaum Aud, ada yang digoncang dengan halilintar bergerumuh dasyat seperti kaum tsamud, ada pula kami benamkan kedalam tanah seperti karun dan ada pula kami yang kami tenggelamkan seperti kaum nuh. Dengan siksaan-siksaan itu, Allah tidak akan menganiaya mereka, namun mereka juwalah yang menganiaya diri sendiri, karena dosa-dosanya”.

Siksaan tidak dapat dipisahkan dengan dengan kehidupan manusia. Setiap manusia pernah atau akan menjalin siksaan. Siksan tidak dapat dipisahkan dengan dosa. Siksaan yang berhubungan dengan dosa adalah siksaan di hari kiamat, siksaan dineraka merupakan tugas para ahli agama untuk membicarakannya.
Siksaan itu berupa penyakit, siksaan hati, siksaan badan oleh orang lain dan sebagainya.
Siksaan manusia ini ternyata juga menimbulkan kreatifitas baik bagi yang pernah mengalami siksaan atau orang lain yang berjiwa seni yang menyaksikan baik langsung atau tidak langsung. Hal itu terbukti dengan banyaknya tulisan baik berupa berita, cerpen, ataupun novel yang mengisahkan siksaan orang. Bahkan siksaan itu banyak pula yang di filmkan.
Dengan membaca hasil seni yang berupa siksaan kita akan dapat mengambil hikmahnya.  Karena kita dapat menilai arti manusia, harga dikuasai nafsu setan, kesadisan, tidak menenal prikemanusiaan, dan sebagainya.
Kita dapat menilai diri kita sendiri, dimana kita berdiri, dimana kita berpihak, dan sejauh mana ketakwaan kita.

a.       Peringatan Rasul SAW Tentang Kehidupan Dunia
Rasulullah bersabda: “Adalah kamu didunia ini seperti tamu, dan jadika mesjid seperti rumahmu, niscaya hatimu akan menjadi lunak dan banyaklah berpikir dan menangis dan janganlah kamu bersedih dengan menurutkan nafsumu dan kamu membuat bangunan yang indah-indah. Sedangkan itu belum tentu kamu diami, dan menghimpunkan apa yang kamu tidak akan menghimpunkan apa yang kamu tidak akan memakannya bercita-cita apa yang tidak kamu peroleh”. (HR. Abu Nu’aim)
Dari Hadits diatas, Rasul SAW mengimgatkan agar manusia berpikir dan menginsyafi diri bahwa diri manusia di dunia ini seperti tamu, dan sebagai tamu tentu tidak akan lama tinggal ditempat dimana ia menginap, dan tentulah kamu tersebut akan segera pulang kerumahnya.
Demikianlah manusia tidak akan lama mendiami dunia yang fana ini, sudah itu ia akan kembali ke kampung yang kekal, tempat tinggal untuk selama-lamanya. Bagi orang yang beriman akhirat itu lebih baik dari pada dunia ini. Dan jadikanlah mesjid menjadi rumahmu, dengan maksud agar manusia sering kemesjid, untuk beribadah, berbakti kepada Allah, agar manusia tidak tertipu oleh kehidupan dunia yang penuh dengan berbagai persoalan gembira dan sedih selih berganti.
Maka sesungguhnya seseorang yang ingin membina akhlak yang budi pekerti umat, tidak ada jalan yang lebih baik, kecuali melaksanakan ajaran Allah dan Rasul-Nya, dengan penuh hati, itulah obat mujarab yang dapat menyembuhkan penyakit kemerosoyan moral.

b.      Cobaan Allah Hidup Di Dunia
Firman Allah SWT: “Sesungguhnya kami uji manusia itu dengan bermacam-macam ujian, ada kalanya dengan ketakutan , kelaparan, kekurangan harta, kematian, dan kekurangan buah-buahan, berilah kabar gembira kepada orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka berkata: “sesungguhnya kami ini kepunyaan Allah dan akan kembali kepada-Nya”. Untuk mereka rahmat dari Tuhannya serta anugrah dan mereka itu mendapat petunjuk”. (QS. Al-Baqarah; 2: 155-157)
Firman Allah SWT: “Ingatlah ketika nabi Ibrahim di coba Tuhannya dengan beberapa cobaan, lalu disempurnakannya segala cobaan itu”. Allah berfitman: “sesungguhnya Aku jadikan engkau, hai Ibrahim menjadi imam bagisegala manusia. Ibrahim berkata: begitu pula hendaknya anak cucuku . Allah berfirman: “tetapi orang-orang yang aniaya tidaklah mendapat perjanjianku”. (QS. Al-Baqarah; 2: 124)
Begitu pula siksaan Allah SWT, sedangkan siksaan akhirat lebih besar dari pada itu, jika mereka mengetahuinya.


E.     RASA SAKIT

a.       Sakit Merupakan Sunnatullah
Sakit merupakan keadaan yang senantiasa dialami oleh hampir semua manusia. Dengan rasa sakit, manusia tahu dan sadar akan pentingnya keadaan sehat, sehinnga ia mau mensyukuri nikmat sehat tersebut.
Conroh:
a.       Cacat lahir, karena tidak sempurnanya proses pertumbuhan janin di dalam rahim
b.      Penyakit infoksi yang terjadi sebagai akibat interaksi antara manusia dengan bibit penyakit yang juga merupakan makhluk Allah SWT.

b.      Sakit Merupakan Ujian
 Sesungguhnya bila Allah SWT mencintai suatu kaum, dicobanya-Nya dengan berbagai cobaan. Dan barang siapa yang tidak ridha, mereka akan memperoleh murka Allah SWT”. (HR. Ibnu Hiajah dan Tarmidzi)

c.       Sakit Sebagai Penembus Dosa
Hadits yang diriwayatkan muslim: “Tidak ada satu musibah yang menimpa seorang mukmin walaupun hanya tertusuk duri atau lebuh dari itu, kecuali Allah tingkatlah derajatnya dan dihapuskan dosanya”. (HR. Muslim)
Oleh karena itu makin besar penderitaan seseorang mungkin besar pula pahala yang di dapat.




d.      Sakit Sebagai Peringatan
Orang yang menderita sakit setelah ia menyimpang dari petunjuk agama dan melakukan perbuatan tercela. Dalam beberapa kasus: penyakit yang diderita dapat menyadarkan mereka untuk kembali kejalan yang lurus. Misalnya penyakit AIDS, korban narkoba, genore, dan sebagainya.

e.       Sakit Sebagai Azab
Contohnya sebagai wabah penyakit yang menyerang suatu masyarakat yang berbuat zalim. Misalnya wabah penyakit theun yang menyerang tentara Abrahah, yang ingin merobohkan ka’bah.

f.       Upaya Menyembuhan
a.       Allah SWT yang menetukan penyembuhan
Firmannya: “Dan bila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan”. (QS. Asy-Syu’ara: 80)
b.      Manusia wajib berikhtiar
Dengan mempelajari sunnatullah, ilmu kedokteran modern telah banyak mengungkap sebab-akibat maupun cara pengobatan berbagai penyakit, sehingga para dokter dapat membantu orang sakit berikhtiar secara lebih baik.







F.     NERAKA
Neraka adalah darul azab, yakni tempat siksaan bagi orang yang beebuat dosa, durhaka, dan orang yang ingkar kepada Allah SW.
Allah SWT akan memberi bakasan kepada orang-orang yang taat dan berbakti dengan kenikmatan berartu syurga. Maka kepada orang-orang yang durhaka dan bersalah akan diberi balasan berupa siksa, yaitu neraka. Ini dilakukan sebagai hukuman terhadap mereka, hukuman yang sangat pedih, dan berbagai malam siksaan yang mengerikan.
Mengenai azab neraka ini, Rasulullah SAW, setiap menerangkan keadaan neraka, beliau tanpak sekali ketakutan, gemetar seakan-akan melihat sendiri neraka itu.
Panas api neraka lebih jauh dari pada panas api di dunia ini. Itulah api Allah SWT untuk membakar manusia-manusia yang durhaka kepada-Nya nanti dihari kiamat nanti.
Neraka mempunyai tujuh tingkat, sebagaimana bumi atau langit mempunyai tujuh lapis. Dari tujuh tingkat ini beratas tujuh pintu. Akan tetapi neraka itu bukanlah merupakan api unggun yang menyala diatas sesuatu lapangan terbuka atau seperti kawah gunung berapi yang mengepul-ngepulkan asap dari sebuah lubang kepundam yang sangat dalam. Tetapi neraka itu bertingkat-tingkat dan berpintu-pintu. Neraka tempat penyiksaan kaum yang durhaka kepada Allah SWT yang sangat mengerikan. Berbagai macam siksaan yang dasyat ada di sana. Tempt menghancurkan kulit dan tubuh orang-orang mujrimin dan orang-orang kafir.
Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya orang-orang kafir kepada ayat-ayat kami, kelak akan kami masukkan mereka itu kedalam ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus hancur, kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa Lagi Maha Bijaksana”. (QS. An-Nisa: 56)
Ada tujuh macam neraka yaitu:
1.      Neraka Jahannam
2.      Neraka Ladlo
3.      Neraka Huthamah
4.      Neraka Sa’ir
5.      Neraka Saqar
6.      Neraka Jahiem
7.      Neraka Hawiyah

a.       Neraka Jahannam
Neraka jahannam adalah neraka yang melingkungi orang-orang yang disiksa di dalamnya dari segala jurusan. Neraka ini adalah tingkat yang diatas sekali. Nama jahannam dipakai untuk seluruh nama api neraka, mulai dari tingkat yang paling atas sampai pada tingkat yang paling bawah
Firman Allah SWT: “Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan lagi bagi mereka itu pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka itu masuk surga, hingga untuk masuk ke lobag jarum. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan. Mereka mempunyi tikat tidur dari api neraka dan diatas mereka ada selimut api (api neraka). Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang zalim”. (QS. Al-A’raaf, 40: 41)
Para penghuni neraka jahannam tidak akan mati buat selama-lamanya, sebab kalau mati tentu dapat beristirahat. Oleh karena itu, penghuni neraka jahannam tidak akan merasakan kehibupan yang senang dan nyaman.
Firman Allah SWT: “Orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhi peringatan itu. Orang itulah yang akan memasuki api yang besar (neraka). Kemudian dia tidak akan mati didalamnya dan tidak pula hidup”. (QS. Al-A’laa, 11-13)
Sifat-sifat neraka jahannam telah diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa Rasulullah SAW, bersabda: “Malaikat jibril telah datang kepada ku, maka aku berkata kepadanya: “Wahai Jibril, berikanlah kepadaku sifat-sifat neraka jahannam itu”. Malaikat jibril  berkata: “Sesungguhnya Allah SWT telah menciptakan neraka dan menyalakannya denga api selama seribu tahun sehingga menjadi berwarba merah, kemudian menyalakannya lagi seribu tahun sehingga menjadi bewarna putih, lalu menyalakannya pula selama seribu tahun lagi sehingga menjadi berwarna hitam seperti malam yang gelap, nyalanya tak pernah berhenti ban baranya tak pernah padam”.

b.      Neraka Ladlo
Neraka ladlo merupakan neraka yang tingkat kedua. Di dalamnya neraka ladlo itulah orang yang mendustakan agama, orang-orang yang menumpuk-numpuk harta kekayaan. Tetapi tidak mau mengeluarkan zakat dan tidak menafkahkan kejalan yang benar.

c.       Neraka Huthamah
Neraka huthamah adalah neraka tingkat tiga. Di neraka huthamah terdapat tempat orang lalai mengerjakan perintah Tuhan, karena pengaruh oleh harta dunua. Harta yang menjadi durhaka.
Firman Allah SWT: “Ingatlah, sesungguhnya dia benar-benar dilemparkan kedalam neraka huthamah itu (yaitu) apa (disediakan) Allah yang dinyatakan yang (naik) sampai ke ulu hati. Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka, (sedang) mereka itu diikat pada tiang-tiang yang panjang”. (QS. Al-Humazah: 4-9)

d.      Neraka Sa’ir
Neraka tingkat keempat ini ditempatkan orang-orang yang memakan harta anak yatim. Di dalam neraka itu mereka menjadi buta, tuli, bisu.
Firman Allah SWT: “sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan dimasukkan kedalam neraka Sa’ir”. (QS. An-Nisa: 10)

e.       Neraka Saqar
Neraka yang ditingkat kelima. Dicampakkan orang-orang yang tidak shalat, orang-orang yang tidak mau memberikahan orang miskin, orang yang membicarakan perkara batil dan orang yang mendustakan hari pembalasan.
Firman Allah SWT: “Aku akan masukkan kedalam (neraka) saqar. Tahukah kamu apakah (neraka) saqar itu? Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. (neraka saqar) adalah membakar kulit manusia. Diatasnya ada 19 (malaikat penjaga)”. (QS. Al-Mudatsir: 26: 30)

f.       Neraka Jahiem
Neraka yang ditingkat ke enam. Dan ditempatkan orang-orang kafir, orang yang mendustakan agama, yaitu orang islam yang berdosa. Mereka melangar larangan Allah. Misalnya berzina, meminum khamar, membunuh tanpa hak dan sebagainya.
Firman Allah SWT: “Sesungguhnya kami menjadikan pohon zakun itu sebagai siksaan bagi orang-orang yang zalim. Sesungguhnya dia adalah sebatang pohon yang keluar dari dasar (neraka) Jahiem. Mayang-mayangnya seperti kepala setan. Maka sesungguhnya mereka itu benar-benar memakan sebagian dari buah pohon zakun itu. Kemudian sesudah makan buah pohon zakun itu pasti mereka mendapat minuman yang becampur air yang sangat panas. Sesungguhnya tempat kembali mereka itu benar-benar neraka jahiem”. (QS. Ash-Shaffaat): 63-68)
Para penghuni neraka jahiem di perlakukan dengan kasar dan keji. Firman Allah SWT: “penganglah dia, kemudian seretlah ketengah-tengah (neraka) jahiem. Tuangkanlah diatas kepalanya siksaan (dari) air yang sangat panas. Rasakanlah, sesungguhnya ini adalah azab yang dahuli meragu-ragukannya”. (QS. Ad-Dukhaan; 47: 50)

g.      Neraka Hawiyah
Adalah neraka yang terletak paling bawah sekali. Dan ditempatkan orang-orang yang berdosa berat, yaitu orang-orang yang menjadi musuh Nabi dan orang-orang munafik.
Firman Allah SWT: “Adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka hawiyah. Dan tahukah kamu apakah neraka hawiyah itu? (yaitu) api yang sangat panas”. (QS. As-Qari’ah; 8-11)
“Sesungguhnya orang yang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka, dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka”. (QS. An-Nisa; 145)


G.    PENDERITAAN DAN KENIKMATAN
Tujuan hidup manusia yang populer adalah kenikmatan, sedangkan penderitaan adalah peristiwa yang selalu di hindari oleh manusia. Macam-macam penderitaan menurut penyebabnya antara lain: penderitaan karena alasan moral, seperti kekecewaan dalam hidup matinya seorang sahabat, kebencian orang lain.
Hedonisme yaitu suatu pandangan bahwa kenikmatan merupakan  tujuan satu-satunya dari kegiatan manusia dan kunci menuju hidup baik.


Hedonisme ada 2 macam, yaitu:
a.       Hedonisme psikologis yang berpandangan bahwa semua tindakan diarahkan untuk mencapai kenikmatan dan menghindari penderitaan.
b.      Hedonisme etis yang berpandangan bahwa semua tindakan harus ditujukan kepada kenikmatan dan menghindari penderitaan.


H.    PENDERITAAN DAN KASIHAN
Mietzche yang memberontak terhadap pernyataan berbunyi “Dalam menghadapi penderitaan ini, manusia merasa kasihan”. menurut Mietzche, pernyataan ini tidak benar. Penderitaan itu adalah sesuatu kekurangan vitalitas. Selanjutnya ia berkata, “Sesuatu yang vital yang kuat tidak menderita; oleh karena ia mendapat hidup terus dan ikut mengembangkan kehidupan semesta alam. Orang kasihan adalah yang hilang vitalitasnya, rapuh, busuk, dan runtuh, kasihan itu merugikan perkembangan hidup, sehingga dikatakannya bahwa kasihan adalah pengutusan penderitaan.
Pandangan Mietzche tidak dapat disetujui karena:
·         Dimana letak humanisnya dari aliran existensialisme
·         Bahwa penderitan itu ada dalam hidup manusia dan dapat diatasi dengan sikap kasihan.
·         Tidak mungkin orang yang membantu penderita, menyingkir dan senang bila melihat orang yang menderita





I.       HUNGNGAN MANUSIA DAN PENDERITAAN
Penderitaan seseorang menurut pandangan agama khususnya islam. Disebabkan oleh dua kemungkinan:
·         Karena ujuan Allah SWT
·         Karena bala atau siksaan Allah SWT
Firman Allah SWT: “Sesungguhnya akan kami berikan cobaan kepada mu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan”. (QS. Al-Baqarah; 155)
Telah timbul kerusakan di darat dilaut disebabkan ulah tangan manusia, karena Tuhan hendak merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali kepada kebenaran”. (QS. Ar-Rum; 41)
Penderitaan itu merupakan siksa, rasanya tidak ada jalan lain kecuali menyesali perbuatan-perbuatan yang tidak baik yang pernah kita lakukan, dengan janji tidak akan mengulangi lagi.
Firman Allah SWT: “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah wahai orang-orang yang beriman, mudah-mudahan kamu mendapatkan kebahagiaan”. (QS. An-Nur; 31)



BAB III
PENUTUP


Penderitaan adalah sebuah kata yang sangat dijauhi dan paling tidak di senagi oleh siapun.
Sumber penderitaan terdiri atas hakikat  manusia dan dorongan memenuhi kebutuhan sebagai sumber penderitaan. Di dalam jasmani manusia ada dua unsur yaitu: otak dan panca indera. Rohani memiliki alat dan kemampuan yaitu nafsu, perasan, pikiran dan kemampuan.
Nafsu adalah semua dorongan yang ditimbulkan oleh segala macam kebutuhan, termasuk juga instik, sehingga menimbulkan keinginan tidak terlalu jelas.
Rohani memiliki alat dan kemampuan yaitu:
a.       Nafsu
b.      Perasaan
c.       Pikiran
d.      Kemauan
Menurut Kasmiran (1985), nafsu menurut kerohanian ada 5 macam nafsu, yaitu:
·         Mutmainnah
·         Ammarah
·         Supiah
·         Lawwamah
·         Kombinasi dari 4 nahsu

Perasaaan mmiliki gejala spikis, perasaan menyangkut suasanan batiniah manusia.
Pikiran nafsu juga budi, kemauan disebut juga kehendak.

Rasa askit ada beberapa macam:
1.      Sakit Merupakan Sunnatullah
2.      Sakit Merupakan Ujian
3.      Sakit Sebagai Penembus Dosa
4.      Sakit Sebagai Peringatan
5.      Sakit Sebagai Azab
6.      Upaya Menyembuhan

Ada tujuh macam neraka yaitu:
1.      Neraka Jahannam
2.      Neraka Ladlo
3.      Neraka Huthamah
4.      Neraka Sa’ir
5.      Neraka Saqar
6.      Neraka Jahiem
7.      Neraka Hawiyah

DAFTAR PUSTAKA


Notowowidagdo, Rahiman. Ilmu Budaya Dasar Berdasarkan Al-Quran dan Hadits. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 2002

Soelakman-M. Munandar. Ilmu Budaya Dasar. Bandung: Eresco. 1992

Tri Prasetya, Joko. Ilmu Budaya (Lengkap). Jakarta: PT. Rineka Cipta. 1998

Wiagdho, Djoko. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: PT. Bumi Aksara. 2003

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar