Selasa, 20 Desember 2011

ILMU BUDAYA DASAR, ILMU SOSIAL DASAR DAN ILMU ALAMIAH DASAR


BAB I
PENDAHULUAN
                Pada suatu perguruan tinggi yang berpendapat bahwa suatu mata kuliah atau beberapa mata kuliyah dasar, juga bagi perkembangan kepribadian mahasiswi, dapat menambaha mata kuliah sebagai bagian dari mata kuliah dasar umum (kekhasan setempat), asal saja tujuan dan fungsi mata kuliah ini memang sama dan selaras dan bertujuan dan fungsi matakuliyah dasar umum.
                IBD  biasanya dibagi atas tiga kelompok pertama, seni (sastra, musik, seni rupa, seni tari dan berpidato). Sejarah, agama filsafat, sejarah yang diajarkan sebagai disiplin yang menelaah manusia dalam dimensi waktu dengan mengutamakan telaahnya dalam masa lampaunya. Manusia disitu dilukiskan sebagai ciptaan Allah, makhluk pencipta budaya dan pencipta peradaban. Melalui perubahan, pengajar sejarah bermaksud dan mengertiakan isi pengalaman buat manusia dimasa lampau serta kondisinya sekarang sebagaimana terdapat dalam berbagai kelompok kehidupan.
                Dalam kehidupan sehari-hari manusia berkomunikasi dengan sesamanya secara langsung sehingga membutuhkan retorika lisan. Ibd jika memberikan retorika lisan haruslah pada praktek berpidato dimuka umum menurut gaya bahasa yang berlaku.










BAB II
PEMBAHASAN

1. Pengertian Ilmu Budaya Dasar dan Ruang Lingkup Kajian
a. Pengertian
                Ilmu Budaya Dasar adalah suatu pengetahuan yang mene­laah berbagai masalah kemanusiaan dan budaya, dengan menggunakan pengertian-pengertian yang berasal dari dan telah dikem­bangkan oleh berbagai bidang pengetahuan keahlian yang ter­golong dalam Pengetahuan Budaya.
Definisi tentang pengetahuan budaya
       Pengetahuan Budaya (the humanities) adalah pengetahua; yang mencakup keahlian (disiplin) seni dan filsafat. Keahlian ini dapat dibagi lagi dalam keahlian-keahlian lain, seperti seni sastra, seni tari, seni musik, seni rupa dan lain-lain.
       Jika dilihat di atas ada "arti" dan definisi yang menguraikan pengertian tentang apakah pengetahuan budaya yang apabila kita perbandingkan dengan Ilmu Ekonomi, Agama, Hukum, Politik akan nampak mempunyai luas jelajah (teba = Bhs. Jawa), dan tekanannya. Dengar, demikian di sini jelas dapat dibandihgkan antara pengertian the humanities (Ilmu Budaya Dasar) dengan Culture (Kcbudyaan). The Humanities atau Humaniora itu menurut L. Wilardjo adalah : Sikap dan perilaku masai moril manusia terhadap sesamanya. Jadi Humaniora ini dilihat dari/definisi L. Wilarjo sebagai seperangkat sikap dan perilaku manusi'a. Jika dirinci, maka tujuan pengajaran Ilmu Budaya Dasar itu adalah:
1.  Lebih peka dan terbuka terhadap masalah kemanusiaan dan budaya, serta lebih bertanggung jawab terhadap masalah-masalah tersebut .
2. Mengusahakan kepekaan terhadap nilai-nilai lain untuk lebih mudah menyesuaikan diri.
3.  Menyadarkan mahasiswa terhadap nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat, hormat menghormati serta simpati pada nilai-nilai yang hidup nada masyarakat.
4.      Mengembangkan daya kritis terhadap persoalan kemanusiaan dan daya kebudayaan .
5.      Memiliki latar belakang pengetahuan yang cukup luas tentang kebudayaan Indonesia.
6.  Menimbulkan minat untuk mendalaminya.
7.  Mendukung dan mengembangkan kebudayaan sendiri dengan kreatif.
8.  Tidak terjerumus kepada sifat kedaerahan dan pengotakan disiplin ilmu.
9.      Menambah kemampuan mahasiswa untuk menanggapi masalah nilai-nilai budaya dalam masyarakat Indonesia dan dunia tanpa terikat oleh disiplin mereka.
10.    Mempunyai persamaan bahan pembicaraan, tempat berpijak mengeni masalah kemanusiaan dan kebudayaan.
11.   Terjalin interrelasi antara cendekiawan yang berbeda keahlian agar lebih positif dan komunikatif.
12.   Menjembatani para sarjana yang berbeda keahlianya dalam bertugas menghadapi masalah kemanusiaan dan budaya.
13.   Memperlancar pelaksanaan pembangunan dalam berbagai bidang yang ditangani oleh berbagai cendekiawan yang berlatar belakang pendidikan berbeda.
14.   Agar mampu memenuhi tuntutan masyarakat yang sedang membangun.
15.   Agar dapat memenuhi tuntutan dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya darma pendidikan.
        Ilmu Budaya Dasar telah kita ketahui bahwa bukanlah il­mu yang monolit atau ilmu yang tunggal. Ia lebih tepat dise­but sebagai "ilmu gabungan", yang secara bersama-sama atau sendiri-sendiri dapat dipakai sebagai alat untuk memecahkan berbagai masalah yang dihadapi manusia sebagai makhluk yang berbudaya, baik dalam kedudukannya sebagai makhluk indi­vidu, makhluk sosial, maupun makhluk ciptaan Tuhan.
Komponen yang paling utama dalam membentuk Ilmu Bu­daya Dasar itu ada empat, ialah: (1) Filsafat; (2) Teologi; (3) Sejarah; dan (4) Seni. Sehingga timbullah pertanyaan yang mendasar, mengapa keempat ilmu tersebut yang terpercaya se­bagai pokok Ilmu Budaya Dasar yang memiliki obyek dan tu­juan seperti disebut di atas? Jawabnya sebagai berikut :
Filsafat yang sering disebut sebagai induk ilmu, merupakan ilmu yang berusaha memberi jawab atas pertanyaan-perta­nyaan yang sangat esensial. Melalui filsafat atau melalui jawab­an-jawaban yang diberikan oleh filsafat, orang akan mengeta­hui mengenai hakikat sesuatu yang dipertanyakan tersebut.
Dalam hubungannya dengan maksud untuk mengetahui hakikat "manusia sebagai makhluk yang berbudaya", filsafat khususnya filsafat manusia, akan mengarahkan wawasannya terhadap ciri-ciri khas yang membedakan dari makhluk-makh­luk lain. Filsafat yang mampu menjawab pertanyaan-perta­nyaan yang esensial tentang manusia, seperti apa atau siapakah sebenarnya manusia itu, dari mana dia berasal dan mau ke ma­na, apakah yang menyebabkan ia bertindak, dan sebagainya.
Teologi atau yang sering disebut ilmu agama, akan menga­jar banyak kepada kita tentang manusia, sejarahnya, tujuan' nya, tugas dan tanggung jawabnya di dunia sebagai makhluk ciptaan Tuhan, dan sebagainya. Teologi juga membekali manu­sia untuk mengerti apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan manusia sebagai pelaku kebudayaan. Teologi juga memperke­nalkan kepada manusia tentang nilai-nilai yang patut didamba­kan demi kebahagiaan hidupnya, baik hidup di dunia mau­pun hidup di akhirat setelah mati kelak. Teologi membekali manusia untuk mendapatkan kebahagiaan hidup jasmani mau­pun rohani. Pendek kata hanya teologilah yang mampu me­nuntun manusia menjadi "insan kamil" atau manusia yang utuh (sempurna).
Sejarah juga memberikan andil kepada manusia untuk me­ngerti siapa dia sebenarnya itu. Sejarah menceritakan kepada kita bagaimana orang-orang yang terdahulu hidup dalam arti yang seluas-luasnya; tentang adat istiadatnya, pandangan hi­dupnya, bahkan asal usulnya. Sejarah akan memperkenalkan manusia lebih banyak dari sisi lahirnya maka seni akan me­lengkapi dengan lebih banyak menekankan dari sisi batinnya. Sebab seni seperti telah kita ketahui, merupakan perwujud­an tanggapan manusia, baik pikiran maupun perasaannya, mengenai hidup dan kehidupan yang mengelilinginya.
Seni adalah perwujudan kekaguman dan sekaligus peng­hargaan manusia terhadap keindahan dan nilai-nilai yang di­temuinya dalam kehidupannya. Seni dapat pula dikatakan se­bagai bukti keunggulan manusia di antara makhluk-makhluk lain ciptaan Tuhan. Lewat seni manusia mencari identitas, identitas dirinya dalam usaha mencari jawab atas pertanyaan: "Siapa dia, siapa engkau, dan siapa aku"? Lewat seni pula ma­nusia akan meraih "the ultimate reality" atau hakikat kenya­taan.
Seni seperti kita ketahui, diciptakan orang bukan sekedar untuk mengabadikan keindahan yang bersifat indrawi, melain­kan juga dimaksudkan untuk menyampaikan gagasan atau ide-ide dan nilai-nilai yang menjadi dambaan setiap manusia. Seni bukan hanya memberikan kepuasan atau kenikmatan bagi pe­nanggap atau konsumen saja, melainkan juga merupakan ke­kayaan yang tinggi nilainya. Sebab seni dapat memperluas budi nurani manusia, karena di samping dasar estetik, dalam seni terdapat.'dasar etik "atau moral yang diperjuangkan. Maka seti­ap seni' itu indah, dan setiap yang indah selalu mengandung kebaikan, dan kebenaran. Dengan demikian setiap seni meng­andung misi menyampaikan kebaikan dan kebenaran.
Kebaikan dan kebenaran dalam bahasa Cina adalah "tao", yang berarti jalan atau marga. Maka siapapun yang menempuh jalan tersebut akan dapat membedakan antara kebaikan dan kejahatan, antara yang baik dan yang jelek. Jadi tidak musta­hil bila seni mampu menuntun manusia ke arah kebaikan dan menjauhkan manusia dan kesesatan. Dapat juga kita katakan
Pengertian Ilmu Budaya Dasar identik dengan Basic Humanities yang berasal dari kata Latin Humanus yang artinya manusiawi, berbudaya, dan halus (refined). Dengan mempelajari Ilmu Budaya Dasar diharapkan seseorang menjadi lebih manusiawi, lebih berbudaya dan lebih halus.
Pendekatan terhadap berbagai masalah budaya ini dilakukan dengan menggunakan berbagai pengetahuan budaya (the humanities), baik dengan menggunakan suatu keahlian (disiplin) ataupun dengan menggunakan pende­katan berbagai keahlian (interdisipliner).
Kita telah mengetahui bahwa Pembangunan Nasional ber-. tujuan untuk mewujudkan suatu masyarakat adil dan makmur yang merata, material dan spiritual berdasarkan Pancasila. Bahwa hakikat pembangunan nasional adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh ma­syarakat Indonesia. Untuk mencapai tujuan tersebut, sudah tentu pendekatan dan strategi pembangunan hendaknya me­nempatkan manusia sebagai pusat interaksi kegiatan pemba­ngunan spiritual maupun material. Pembangunan yang melihat manusia sebagai makhluk budaya dan sebagai sumber daya dalam pembangunan. Hal itu berarti bahwa pembangunan se­harusnya mampu meningkatkan harkat dan martabat manusia. Menumbuhkan keseimbangan serasi, yang berkepribadian utuh. Memiliki moralitas serta integritas sosial yang tinggi. Manusia yang takwa kepada Tuhan Yang Mahaesa.
Dengan memperhatikan hal tersebut di atas, maka Ilmu Budaya Dasar (IBD) perlu bagi setiap mahasiswa mempelajari­nya. Karena itu IBD kemudian dimasukkan ke dalam salah satu Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU), yang wajib diikuti oleh setiap mahasiswa di Perguruan Tinggi. Tujuannya ialah untuk membentuk manusia yang :
1)       Takwa kepada Tuhan Yang Mahaesa, bersikap dan bertin­dak sesuai dengan ajaran agamanya, dan memiliki tenggang rasa terhadap pemeluk agama lain.
2)       Berjiwa Pancasila sehingga segala keputusan serta tindakan­nya mencerminkan pengamalan nilai-nilai Pancasila dan memiliki integritas kepribadian yang tinggi, yang mendahu­lukan kepentingan nasional dan kemanusiaan sebagai sar jana Indonesia.
3)       Memiliki wawasan budaya yang luas tentang kehidupan bermasyarakat dan secara bersama-sama mampu berpera serta meningkatkan kualitasnya, maupun lingkungan alam­iah dan secara bersama-sama berperan serta di dalam pe­lestariannya.
4)     Memiliki wawasan komprehensif dan pendekatan integral di dalam menyikapi permasalahan kehidupan baik sosial, ekonomi, politik, kebudayaan, maupun pertahanan keamanan.
Oleh Martiatmodjo, BS dalam "Catatan Kecil tentang Hu­maniora", Kompas, 31 Maret 1983 dikatakan: Ilmu Budaya  Dasar.
Ilmu Budaya Dasar sebagai mata kuliah wajib di Perguru­an Tinggi adalah terjemahan dari istilah Basic Humanities atau pendidikan humaniora, Humanior dalam bahasa Latin berarti manusiawi. Humaniora ini menyajikan bahan pendidikan yang mencerminkan keutuhan manusia dan membantu agar manusia menjadi lebih manusiawi. Sehubungan itu filsuf Indonesia Mar-diatmodjo menunjukkan bahwa menegaskan perlunya huma­niora bagi pendidikan berarti menempatkan manusia di tengah-tengah proses pendidikan.
Adapun sumbangan humaniora kepada proses pendidikan menurut beliau ada tiga, yang dengan pengalimatan singkat -I nya sebagai berikut :
(1)    Menyatuderapkan pengembangan pikiran (rasio) dengan hati (rasa).
(2)    Memperkenalkan kepada anak didik nilai-nilai kemanusia­an yang universal  dan abadi.
(3)    Mengerjasamakan pendidik dengan anak didik serta teori dengan praktek.

b. Ruang Lingkup Kajian.
Bertitik tolak dari kerangka tujuan yang telah dikemukakan tersebut di atas, ada dua masalah yang bisa dipakai sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan ruang lingkup kajian mata kuliah Ilmu Budaya Dasar. Kedua masalah tersebut ialah :
a.  Berbagai aspek kehidupan yang seluruhnya merupakan ungkapan masalah kemanusiaan dan budaya yang dapat didekati dengan menggunakan pengetahuan budaya (The Humanities), baik dari segi masing-masing keahlian (disiplin) di dalam pengetahuan budaya, maupun secara gabungan (antara bidang) berbagai disiplin dalam pengetahuan budaya.
b.  Hakikat manusia yang satu atau universal, akan tetapi yang beraneka ragam perwujudannya dalam kebudayaan masing- masing zaman dan tempat. Dalam melihat dan menghadapi lingkungan alam, sosial dan budaya, manusia tidak hanya mewujudkan kesamaan-kesamaan, akan tetapi ketidak seraga-
man yang diungkapkan secara tidak seragam, sebagaimana yang
terlihat ekspresinya dalam berbagai Dentuk dan corak ungkapan,
pikiran dan persamaan, tingkah laku, dan kelakuan mereka
Menilik masalah pokok yang biasa dikaji dalam mata kuliah Ilmu Budaya Dasar tersebut di atas, Nampak dengan jelas bahwa manusia menempati posisi sentral dalam pengkajian. Manusia tidak saja sebagai subyek akan tetapi sekaligus obyek pengkajian Bagaimana hubungan manusia dengan alam sesama manusia dirinya sendiri, nilai-nilai manusia dan bagaimana pula hubungan manusia dengan Tuhan menjadi sentral dalam Ilmu Budaya Dasar.

c. Tujuan Ilmu Budaya Dasar
Berdasarkan Keputusan Dijendikti dari Depdikbud No. 32/ DJ/Kep/1983 diadakannya mata kuliah Ilmu Budaya Dasar ialah sebagai. Pembentukan dan pengembangan kepribadian serta perluasan wawasan, perhatian, pengetahuan dan pemikiran mengenai berbagai gejala yang ada dan yang timbul dalam lingkungan, khususnya gejala-gejala yang berkenaan dengan kebudayaan dan kemanusiaan, agar daya tanggap, persepsi dan penalaran berkaitan dengan lingkungan budaya dapat di­perhalus.
Dengan bantuan Pendidikan Ilmu Budaya Dasar diharap­kan lahir sarjana-sarjana yang tidak profesional belaka, melainkan profesional yang juga memahami bidang-bidang lain di luar bidangnya, dan sarjana yang tahu kedudukan dan fungsinya sebagai makhluk Tuhan yang hidup di tengah-tengah manusia, Sehingga menjadi manusia yang utuh  yang tidak hanya mementingkan dirinya, melainkan juga memikirkan kehidupan sesama, yang tidak hanya mengutamakan kehidupan jasmani belakang,  melainkan juga memikirkan  kehidupan  rohani. Mereka nanti diharapkan tidak hanya akan mencari kebahagiaan hidup di dunia semata, melainkan juga mendambakan kebahagiaan hidup di akhirat.
       
Tujuan Ilmu Budaya Dasar (IBD) menurut Dr. Budi Dharma, adalah untuk mengembangkan kepribadian maha­siswa dengan cara memperluas wawasan pemikiran serta kemampuan kritikal terhadap masalah-masalah budaya, sehingga daya tangkap, persepsi dan penalaran mengenai lingkungan budaya mahasiswa dapat menjadi lebih halus (refined) dan manusiawi.
Dengan tujuan tersebut di atas, mahasiswa diharapkan dapat:
a)     Mempertajam kepekaannya terhadap lingkungan budaya, sehingga lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungannya, terutama untuk kepentingan profesinya.
b)        Memperluas pandangan tentang masalah kemanusia­an dan budaya.
c)         Menjadi calon pemimpin negara dan bangsa serta ahli dalam bidang disiplin masing-masing, dan tidak terje­rumus ke dalam sifat-sifat kedaerahan dan pengkotaan disiplin ilmu yang ketat dalam menangani dan me­nanggapi masalah dan nilai-nilai dalam masyarakat lingkungan mereka.
Adapun tujuannya adalah:
1.    Mengusahakan .kepekaan mahasiswa terhadap lingkungan budaya sehingga mereka akan lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru, terutama untuk kepentingan profesi mereka.
2.    Memberi kesempatan bagi mahasiswa untuk dapat memperluas pandangan mereka tentang masalah kemanusiaan dan budaya serta mengembangkan daya kritis mereka terhadap persoalan-persoalan yang menyangkut kedua hal tersebut.
3.    Sebagai calon pemimpin bangsa dan negara, serta ahli dalam bidang disiplin masing-masing dikehendaki agar mereka jangan jatuh ke dalam sifat-sifat kedaerahan dan pengotakan disiplin yang ketat. Tidaklah dapat disangkal bahwa ruang lingkung pendidikan kita amat sempit dan condong membuat manusia-manusia spesialis yang berpandangan kurang luas. Dengan mata kuliah ini diharapkan dapat menambah kemampuan mahasiswa untuk menanggapi masalah-masalah/nilai-nilai dalam masyarakat dimana mereka hidup tanpa terlalu terikat oleh disiplin mereka.
                Setelah kita dalami ternyata dalam Ilmu Budaya Dasar yang menjadi pumpunan dalam ilmu tersebut adalah manusia dalam ketiga dimensinya yang hakiki; yaitu manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan, manusia sebagai makhluk individu, dan manusia sebagai anggota masyarakat. Manusia dituntut oleh Tuhan un­tuk selalu berbakti atau beribadah. Hal ini sesuai dengan fir­man Allah dalam Surat Adz-Dzariyat ayat 56 : "Tiada Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku." Beribadah artinya menjalankan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi segala larangan-Nya dalam usaha mendekatkan diri kepada Tuhan sesuai dengan keyakinan atau agama yang dipeluknya.
Dengan pengetahuan ini diharapkan manusia Indonesia yang berdasarkan Pancasila dengan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertamanya, tidak hanya sekedar mengaku ber-Tuhan, melainkan harus pula mewujudkan pengakuannya itu dengan tindakan atau perilaku nyata. Beribadah dalam arti luas juga berbuat baik, yang tidak hanya baik bagi diri dan ke­luarganya, melainkan baik pula bagi lingkungannya, tidak hanya terbatas pada manusia sekitar, melainkan juga ling­kungan dalam arti luas.
Sesungguhnya manusia sejak lahir telah dibebani tanggung jawab untuk menjaga alam seisinya.
Orang yang menyadari akan tugas dan tanggung jawabnya ter­sebut pastilah akan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang mendatangkan ketidakserasian kehidupan ini. Ia tidak akan menebangi hutan seenaknya sendiri, tidak akan membu­ang sampah di sembarang tempat, tidak akan memburu dan membunuh hewan-hewan di hutan, tidak akan memakai uang kantor seperti memakan uang sendiri dan sebagainya. Karena ia sadar sepenuhnya bahwa perbuatan-perbuatan ter­sebut akan mengganggu keserasian hidup atau mendatangkan  malapetaka.
Dalam kedudukannya sebagai makhluk individu, manusia dituntut agar menjaga harkat dan martabatnya sebagai manusia. Lengkap dengan kemanusiaannya. Kesadaran ini penting di­miliki oleh setiap manusia karena dampaknya akan menum­buhkan sikap tenggang rasa terhadap manusia lain. Dengan ke­sadaran ini seseorang tidak akan memperlakukan orang lain menurut kemauannya sendiri; sebab jika hal itu teralamat pa­da dirinya dia akan merasa tersinggung harga dirinya.
Dalam kedudukannya sebagai anggota masyarakat, manu sia dituntut hidup saling membantu dan bekerjasama (tenti saja dalam hal-hal yang baik). Sebab hakikatnya manusia itr tidak pernah akan dapat hidup tanpa bantuan manusia lain Kesadaran ini penting sekali dimiliki oleh setiap individu aga tidak ada seorang pun yang merasa "paling" misalnya palinf kaya, paling berpangkat, paling pandai, paling cantik, dan sebagainya.
Untuk menjangkau tujuan tersebut, maka Ilmu Budaya Dasar (IBD) diharapkan dapat :
a)       Mengusahakan penajaman kepekaan mahasiswa terhadap lingkungan budaya, sehingga mereka akan lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru, teruta­ma untuk kepentingan profesi mereka.
b)       Memberi kesempatan pada mahasiswa untuk dapat mem­perluas pandangan mereka tentang masalah kemanusiaan dan budaya, serta mengembangkan daya kritis mereka terhadap persoalan-persoalan yang menyangkut kedua hal tersebut.
c)       Mengusahakan agar para mahasiswa, sebagai calon pemim­pin bangsa dan negara, serta ahli dalam bidang disiplin masing-masing, tidak jauh ke dalam sifat-sifat kedaerahan dan pengotakan disiplin yang ketat. Usaha ini terjadi ka­rena ruang lingkup pendidikan kita amat sempit dan con­dong membuat manusia spesialis yang berpandangan ku­rang luas. Mata kuliah ini berusaha menambah kemampuan mahasiswa untuk menanggapi nilai-nilai dan masalah da­lam masyarakat lingkungan mereka khususnya dan masalah serta nilai-nilai umumnya tanpa terlalu terikat oleh disiplin
mereka.
d) Mengusahakan wahana komunikasi para akademisi kita agar mereka lebih mampu berdialog satu sama lain. Dengan memiliki satu bekal yang sama, para akademisi diharapkan dapat lebih lancar berkomunikasi. Kalau cara berkomuni­kasi ini baik, komunikasi ini selanjutnya akan lebih mem­perlancar pelaksanaan pembangunan dalam berbagai bi­dang keahlian. Meskipun spesialisasi sangat penting, spesia­lisasi yang terlalu sempit akan membuat dunia seorang ma­hasiswa/sarjana menjadi terlalu sempit. Masyarakat yang percaya pada pentingnya modernisasi tidak akan dapat memanfaatkan secara penuh sarjana-sarjana demikian, se­bab proses modernisasi memerlukan orang yang berpan­dangan luas.
Sesuai dengan materi yang disajikan dalam buku ini, maka tujuan Ilmu Budaya Dasar secara keseluruhan ialah :
1.         Agar mahasiswa memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang Ilmu Budaya Dasar.
2.         Agar mahasiswa mengetahui dan memahami arti kasih sa­yang, kemesraan dan pemujaan.
3.         Agar mahasiswa memahami dan mengetahui arti keindah­an.
4.         Agar mahasiswa memahami dan mengetahui arti penderita­an.
5.         Agar mahasiswa mengetahui dan memahami arti keadilan kehidupan manusia.
6.         Agar mahasiswa memahami dan mengetahui arti pandang­an hidup.
7.         Agar mahasiswa memahami dan mengetahui arti tanggung jawab bagi kehidupan manusia.
8.         Agar mahasiswa dapat mengetahui tentang seluk beluk ke­gelisahan hubungannya dengan kehidupan manusia.
9.         Agar mahasiswa mengetahui seluk-beluk harapan dalam ke­hidupan manusia.
Karena akal dan budi ini lahirlah cara dan pola hidup manusia yang berbeda dengan cara dan pola hidup makhluk lain. Sehingga pada satu sisi lahirlah usaha-usaha manusia untuk menguasai alam demi menciptakan kehidupan yang dirasanya menyenangkan. Pada sisi lain hal ini dapat dipastikan me­mungkinkan timbulnya berbagai masalah yang dampaknya dapat mengenai pihak-pihak lain. baik manusia lain. makhluk lain, maupun alam pada umumnya.
Untuk memenuhi kebutuhan sesuatu barang, agar hidup manusia lebih enak, manusia memandang perlu mendirikan pabrik yang menghasilkan barang tersebut. Tentulah memerlu­kan tanah yang luas dan juga tenaga kerja yang cukup, baik sebelum, selama, maupun setelah pabrik itu dapat berproduk­si. Ternyata semua kegiatan yang menyangkut pendirian pa­brik dan pengadaan barang tersebut akan menimbulkan ber­bagai masalah; misalnya: pembebasan tanah, pengubahan fungsi lahan, hubungan kerja antara buruh dengan pabrik, pembuangan air limbah dan sebagainya.
Di sinilah Ilmu Budaya Dasar berbicara, sebab dengan ban­tuan bekal pendidikan Ilmu Budaya Dasar diharapkan semua masalah dapat diselesaikan secara manusiawi; dalam pengerti­an tidak sampai menimbulkan kerugikan bagi semua pihak yang terlibat. Jangan sampai masing-masing pihak hanya me­mandang masalah itu dari segi kepentingannya sendiri, me­lainkan juga memikirkan kepentingan pihak lain. Jelaslah sosok Ilmu Budaya Dasar bukanlah ilmu mengenai kebudayaan atau sebangsanya, melainkan ilmu yang diharap­kan mampu menjadikan manusia yang mempelajari lebih ber-' budaya atau lebih manusiawi.
Di samping istilah Ilmu Budaya Dasar, untuk ilmu yang sama ada yang menyebut "Ilmu-ilmu Kemanusiaan", ada yang menyebut 'Tendidikan Kemanusiaan", dan ada pula yang me­nyebut "Pengetahuan Budaya". Menurut M. Suprihadi Sastro-supono misalnya, kurang setuju kalau pendidikan humaniora disebut dengan "Ilmu Budaya Dasar". Sebab ia berpendapat bahwa istilah Ilmu Budaya Dasar dapat menggiring orang kepa­da suatu pengertian sebagai ilmu yang berbicara tentang da­sar-dasar ilmu budaya, atau memberi kesan tentang ilmu buda­ya yang paling dasar, sehingga ditafsirkan sebagai pengantar kebudayaan.
Memang Ilmu Budaya Dasar (Basic Humanities) tidak dapat disamakan dengan Pengetahuan Budaya (The Humanities). Se­bab pengetahuan budaya hanya membatasi diri pada bidang filsafat dan seni; sedangkan Ilmu Budaya Dasar mempunyai cakupan yang lebih luas.
Menurut M. Habib Mustopo dalam buku Manusia dan Budaya, Ilmu Budaya Dasar berusaha memberikan konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan. Sedangkan menurut Andy Zoeltom mengatakan bahwa sebagai ilmu yang berbicara tentang nilai-nilai yang di­hadapi oleh manusia dalam hidupnya sehari-hari. Untuk mak­sud tersebut dapat digunakan Pengetahuan Budaya (The Hu­manities).
Pendek kata dalam usaha manusia menemukan nilai-nilai yang dirindukannya sesuai dengan kedudukannya sebagai "ho-mohumanus" atau sebagai makhluk berbudaya, baik sebagai makhluk individu, makhluk sosial maupun makhluk ciptaan Tuhan.
Dua kekayaan manusia yang membedakan antara manusia dengan makhluk lain ialah akal dan budi, memungkinkan mun­culnya cipta, karsa, dan rasa pada diri setiap manusia.

d. Ilmu budaya dasar sebagai ilmu kemanusia­an.
Ilmu Budaya Dasar termasuk ilmu baru di Indoiiosia. Seki­tar tahun 1970 ilmu tersebut baru diperkenalkan oleh para cendekiawan kita, walaupun dalam nama yang lain sebenarnya telah dikenal orang jauh sebelum 1930.
Ilmu Budaya Dasar bukanlah ilmu yang monolit yang su­dah merupakan "body of knowledge" (tubuh keilmuan), karena sasaran ilmu ini adalah masalah-masalah manusia dan budayanya, mencakup filsafat, teologi, sejarah, seni dan ca­bang-cabangnya, termasuk senisastra, senimusik, senilukis dan sebagainya. Ilmu Budaya Dasar lebih tepat kiranya jika di­pandang sebagai suatu sistem pendekatan yang memanfaatkan ilmu-ilmu tersebut dalam usaha memecahkan masalah-masalah yang dihadapi manusia dalam kedudukannya sebagai makhluk berbudaya. Ilmu Budaya Dasar yang kita kenal ini, di luar negeri teru­tama di negara-negara Barat dikenal dengan istilah "humanio­ra", yang merupakan istilah lain dari "the humanities". Istilah itu berasal dari bahasa Latin "humanus" artinya kurang lebih semakna dengan istilah bahasa Indonesia manusiawi, berbuda­ya, dan halus.
                Istilah Ilmu Budaya Dasar yang kita kenal sekarang ini, sebetulnya merupakan terjemahan atau alih bahasa dari "Basic Humanities". Yang pertama kali menggunakan istilah itu dan sekaligus memrakarsai dimasukkannya ilmu tersebut ke dalamkurikulum pendidikan kita adalah Prof. Dr. Harsya. W. Bach-
tiar.                                        
Semua manusia di selengkung langit dan di seluas bumi ini hakikatnya sama. Mereka diciptakan oleh Tuhan dari bahan dasar yang sama. Mereka diciptakan oleh Tuhan dengan tujuan yang sama. Di dunia mereka mempunyai tugas yang sama dan mempunyai tanggung jawab yang sama pula. Yang membedakan mereka dengan sesamanya semata-mata adalah amal dan takwanya kepada Allah swt. Hal ini tercantum dalam Al-Qur'an, surat Al-Hujurat ayat 13 yang artinya demikian," "Hai manusia, sesungguhnya Kami jadikan kamu berbansa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal, & sungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah ialah orangyang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal".
Nyatalah bahwa dimasukkanlah Ilmu Budaya Dasar I dalam pendidikan kita tidak lain untuk menunjang tercapainya tujuan Pendidikan Nasional, yaitu meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Mahaesa, cerdas, trampil, tinggi budi pekertinya, kuat kepribadian terhadap bangsa dan tebal semangat kebangsaannya agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan  yang dapat  membangun  diri sendiri "serta bersama-sama, bertanggung jawab atas pembangunan bangsa seperti dikehendaki oleh Tap. MPR No. IV/MPR/ 1978. Ilmu Budaya Dasar dapat menyelamatkan kehidupan dirinya, kehidupan bangsanya, dan kehidupan manusia pada -umumnya.

Demikian antara lain isi/hasil pertemuan ahli-ahli Ilmu Budaya Dasar Tahun 1980, di bawah koordinasi Konsorsi­um Ilmu-Ilmu Sosial dan Budaya Direktorat Pendidikan Tinggi Depdikbud.
Setelah menerima mata kuliah IBD ini mahasiswa diha­rapkan dapat memperlihatkan:
1)        Minat dan kebiasaan menyelidiki apa-apa yang terjadi di sekitarnya dan di luar lingkungannya, menelaah apa yang dikerjakan sendiri dan mengapa?
2)        Kesadaran akan pola-pola nilai yang dianutnya serta bagaimana hubungan nilai-nilai ini dengan cara hidup­nya sehari-hari.
3)        Kerelaan memikirkan kembali dengan hati terbukaakan nilai-nilai yang dianutnya untuk mengetahui apakah dia secara diri sendiri dapat membenarkan nilai-nilai tersebut untuk dirinya sendiri?
4)        Keberanian moral untuk mempertahankan nilai-nilai yang dirasakannya sudah dapat diterimanya dengan penuh tanggung jawab dan sebaliknya menolak nilai-nilai yang tidak dapat dibenarkan.
       Ilmu Budaya Dasar adalah mata kuliah wajib danmerupakan salah-satu komponen dari Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU), yang wajib diikuti oleh seluruh disiplin ilmu (jurusan) di semua Perguruan Tinggi di Indonesia.
       Dapatlah diperinci secara singkat bahwa tujuan Ilmu Bu­daya Dasar (IBD) ialah :
1.        Agar lebih peka dan terbuka terhadap masalah kemanusia­an dan budaya, serta lebih bertanggung jawab terhadap ma­salah-masalah tersebut.
2.        Menyadarkan mahasiswa terhadap nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat, hormat menghormati serta simpati pada nilai-nilai lain yang hidup pada masyarakat.
3.        Mengembangkan daya kritis terhadap persoalan kemanusia­an dan daya kebudayaan.
4.        Menambah kemampuan mahasiswa untuk menanggapi ma­salah nilai-nilai budaya dalam masyarakat Indonesia dan dunia tanpa terpikat oleh disiplin mereka.
5.        Agar mampu memenuhi tuntutan masyarakat yang sedang membangun.
6.        Agar dapat memenuhi tuntutan dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya Dharma pendidikan.

e.  Ilmu Budaya Dasar sebagai Komponen Mata Kuliah Dasar Umum
Kita telah mengetahui bahwa Pembangunan Nasional bertujuan untuk mewujudkan suatu masyarakat adil dan makmur yang merata, material dan spiritual berdasarkan Pancasila.- Bahwa hakikat pembangunan Nasioanal adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat Indo­nesia. Untuk mencapai tujuan tersebut, sudah tentu pendekatan dan strategi pembangunan hendaknya menempatkan manusia sebagai pusat interaksi kegiatan pembangunan spiritual maupun material. Pembangunan i melihat manusia sebagai mahkluk budaya, dan sebagai sumber daya dalam pembangunan. Hal ini berarti bahwa pembangunan seharusnya mampu meningkatkan harkat dan martabat manusia. Menumbuhkan kepercayaan diri sebagai bangsa. Menumbuhkan sikap hidup yang seimbang, serasi, yang berkepribadian utuh. Memiliki moralitas serta integritas sosial yang tinggi. Manusia yang takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Dengan memperhatikan hal tersebut di atas, Ilmu Budaya Dasar (IBD) perlu bagi setiap mahasiswa, sehingga perlu mem­pelajarinya. Karena itu IBD kemudia dimasukkan ke dalam salah satu mata kuliah Dasar Umum (MKDU), yang wajib diikuti oleh setiap mahasiswa di Perguruan Tinggi. Tujuanya ialah untuk mem­bentuk manusia yang :
1).Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa .bersikap dan bertindak sesuai dengan agamanya ,dan memiliki tenggang rasa terhadap pemeluk agama lain.
2)    Berjiwa Pancasila, sehingga segala keputusan dan tindakannya mencerminkan pengamalan nilai -nilai Pancasila dan memiliki integritas kepribadian yang tinggi , yang mendahulukan kepen tingan nasional dan kemanusiaan sabagai sarjana Indonesia.
3)    Memiliki wawasan kehidupan yang luas tentang kehidupan bermasyarakat dan secara bersama - sama mampu berperan serta meningkatkan kualitasnya maupun lingkungan alamiah dan secara bersama-sama berperan serta di dalam pelestariannya.
4) Memiliki wawasan komprehensif dan pendekatan integral di dalam menyikapi permasalahan baik sosial, ekonomi, politik, kebudayaan, maupun pertahanan keamanan.
Oleh Martiatmodjo, BS dalam "Catatan Kecil tentang Humaniora", Kompai, 31 Maret 1983 dikatakan: Ilmu Budaya Dasar.
Ilmu budaya Dasar sebagai mata kuliah wajib di Perguruan Tinggi adalah terjemahan dari istilah Basic Humanities atau pendidikan humaniora. Humaniora dalam bahasa Latin berarti manusiawi. Humaniora ini menyajikan bahan pendidikan yang mencerminkan keutuhan manusia dan membantu agar manusia menjadi lebih manusiawi. Sehubungan itu filosof Indonesia Martiatmodjo menegaskan bahwa perlunya humaniora bagi pendi­dik berarti menempatkan manusia ditengah-tengah proses pendidik.
Adapun sumbangan humaniora kepada proses pendidikan menurut beliau ada tiga, yang dengan pengamatan singkatnya sebagai berikut:
1.   Menyatuderapkan pengembangan pikiran (rasio) dengan hati (rasa)
2.   Memperkenalkan Kepada anak didik pada nilai-nilai kemanusiaan yang universal dan abadi.
3.   Mengerjasamakan pendidik dengan anak didik serta teori dan praktek.
Menurut M. Habib Mustopo, tujuan IBD ialah mengem­bangkan kepribadian mahasiswa dengan cara memperluas wawasan pikirannya, baik yang menyangkut diri sendiri maupun yang menyangkut orang lain dan alam sekitarnya.
Untuk menjangkau tujuan tersebut, maka Ilmu Budaya'Dasar (IBD) diharapkan dapat :
a)    Mengusahakan penajaman kepekaan mahasiswa terhadap lingkungan budaya, sehingga mereka akan lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru, terutama untuk kepentingan profesi mereka.
b)    Memberi kesempatan pada mahasiswa untuk dapat memperluas pandangan mereka tentang masalah kemanusiaan dan budaya, serta mengembangkan daya kritis mereka terhadap persoalan-persoalan yang menyangkut kedua hal tersebut.
c)     Mengusahakan agar mahasiswa, sebagai calon pemimpin bangsa dan negara, serta ahli dalam bidang disiplin masing-masing, tidak jauh ke dalam sifat-sifat kedaerahan dan pengkotaan disiplin yang ketat. Usaha ini terjadi karena ruang lingkup pendidikan kita amat sempit dan condong membuat manusia spesialis yang berpandangan kurang luas. Mata kuliah ini ber­usaha menambah kemampuan mahasiswa untuk menanggapi nilai-nilai dan masalah dalam masyarakat lingkungan mereka khususnya dan masalah serta nilai-nilai umumnya tanpa terlalu terikat oleh disiplin mereka.
d)    Mengusahakan wahana komunikasi para akademisi kita agar mereka lebih mampu berdialog satu sama lain. Dengan memilki satu bekal yang sama, para akademisi diharapkan dapat lebih lancar berkomunikasi. Kalau cara berkomunikasi ini baik, komunikasi ini selanjutnya akan lebih memperlancar pelaK-sanaan pembangunan dalam berbagai bidang keahlian. Meski­pun spesialisasi sangat penting, spesialisasi yang terlalu sempit akan membuat dunia seorang mahasiswa/sarjana menjadi terlalu

2. Ilmu Sosial Dasar (ISD)
Ilmu Sosial Dasar bukanlah merupakan suatu ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri seperti Pengantar Sosio­logi, Pengantar Ilmu Hukum, Pengantar Ilmu Ekonomi dan sebagainya, melainkan berasal dari berbagai bidang keahli­an sebagai sarana untuk memecahkan masalah-masalah sosial yang dihadapi masyarakat Indonesia.
Ilmu Sosial Dasar adalah merupakan suatu program pengajaran baru yang merupakan Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU) yang dikembangkan di Perguruan Tinggi. Pe­ngembangan ISD itu sejalan dengan pembaharuan sistem Pendidikan yang bersifat dinamis dan inovatif. Ilmu Sosial Dasar adalah ilmu-ilmu sosial yang dipergunakan dalam pendekatan, sekaligus sebagai sarana untuk mencari jalan keluar memecahkan masalah sosial yang berkembang da­lam kehidupan masyarakat.
Ilmu Sosial Dasar memberikan dasar-dasar pengetahu­an sosial kepada para mahasiswa yang diharapkan akan cepat tanggap serta mampu menghadapi dan memberikan alternatif pemecahan masalah-masalah sosial, khususnya yang dihadapi masyarakat Indonesia.
Melalui pengetahuan yang diperoleh dari ISD itu mahasiswa diharapkan akan mampu mengorientasikan diri berkat penghayatannya akan arah perkembangan dalam masyarakat. Paling tidak ia harus mengetahui ke arah mana jalan keluar pemecahan suatu masalah atau problema sosial itu harus ditempuh. Masalah sosial yang sedemikian kompleks, baik yang bersifat lokal, regional, nasional maupun internasional, seperti perkelahian antarpelajar, ledakan tenaga kerja, ledakan penduduk, AIDS, narkotika, penjualan anak dan wanita dan sebagainya.
Tujuan Ilmu Sosial Dasar adalah membantu perkem­bangan wawasan, penalaran dan kepribadian mahasiswa agar memperoleh wawasan dan penalaran yang lebih luas dan ciri-ciri kepribadian yang diharapkan dari sikap maha­siswa khususnya yang berkenaan dengan sikap dan ting­kah laku manusia dalam menghadapi manusia-manusia Jain, serta sikap dan tingkah laku manusia-manusia lain terhadap manusia yang bersangkutan secara timbal-balik.
Ruang lingkup ISD, bahwa tenaga ahli yang dihasilkan oleh Perguruan Tinggi ini dapat diharapkan memiliki tiga kemampuan yang meliputi: kemampuan personal, akade­mis, dan kemampuan profesional.
a.     Kemampuan personal, adalah kemampuan kepribadian. Dengan kemampuan ini para tenaga ahli diharapkan memiliki pengetahuan sehingga mampu menunjukkan sikap tingkah laku dan tindakan yang mencerminkan kepribadian Indonesia, memahami dan mengenal nilai-nilai keagamaan, kemasyarakatan dan kenegaraan (Pancasila) serta memiliki pandangan yang
luas dan kepekaan terhadap berbagai masalah yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia.
b.     Kemampuan akademis, adalah kemampuan untuk mengkomunikasikan secara ilmiah, hasil lisan maupun tulisan, menguasai peralatan analitis, maupun berpikir logis kritis, sistematis, memiliki kemampuan konsepsional untuk mengidentifikasikan dan merumuskan masalah yang dihadapi serta mampu menawarkan alternatif pemecahan.
c.      Kemampuan profesional, adalah kemampuan di bidang profesi tenaga ahli yang bersangkutan. Dengankemampuan ini para tenaga ahli tersebut diharapkan memiliki pengetahuan dan keterampilan yang tinggi
dalam bidang profesinya.

3. Ilmu Alamiah Dasar
Ilmu Pengetahuan Alam merupakan ilmu teoretis yang didasarkan pada pengamatan dan percobaan-percobaan terhadap gejala-gejala alam. Fakta-fakta tentang gejala alam / gejala kebendaan diselidiki, dan diuji berulang-ulang mela­lui percobaan-percobaan (eksperimen), kemudian berdasar­kan hasil eksperimen itulah dirumuskan keterangan ilmi­ahnya (teorinya). Teori tidak dapat berdiri sendiri. Teori selalu didasari oleh suatu hasil pengamatan.
Ilmu Pengetahuan Alam itu bermula dari rasa ingin tahu, yang merupakan suatu ciri khas manusia. Manusia mempunyai rasa ingin tahu tentang benda-benda di sekeli­lingnya, alam sekitarnya, bulan, bintang dan matahari yang dipandangnya, bahkan ingin tahu tentang dirinya sendiri.
Rasa ingin tahu pada manusia, adalah merupakan karunia Allah kepada manusia, sebagaimana firman Allah kepada Malaikat, bahwa Allah akan menciptakan seorang Khalifah (Adam as) di muka bumi, kemudian Allah meng­ajarkan Adam nama-nama seluruh ciptaan-Nya. Firman Allah SWT.:
Dan Dia mengajarkan kepada Adam, nama-nama (ben­da) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat, lalu berfirman: "Sebutkanlah kepadaKu nama-nama benda-benda itu, jika kamu memang benar".
Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui, selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepadakami, sesungguhnya Engkaulahyang MahaTahu lagi Maha Bijaksana".
Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda itu ". (QS al-Baqarah: 31,32 dan 33).
Rasa ingin tahu yang terus-menerus berkembang dan seolah-olah tanpa batas itu menimbulkan perbendaharaan pengetahuan pada manusia itu sendiri. Hal ini tidak saja meliputi kebutuhan-kebutuhan praktis untuk hidupnya sehari-hari seperti bercocok tanam, atau membuat alat-alat berburu dan bertani. Pengetahuan manusia berkembang sampai menyangkut keindahan dan teknologi.

Tujuan Ilmu Alamiah Dasar (IAD) menjadi MKDU:
a.      Memperkenalkan konsep-konsep dasar dalam IPA.
b.      Memberikan wawasan pengetahuan, pengertian dan apresiasi terhadap obyek dan cara pemikiran serta cara-cara pendekatan dalam IPA dan Teknologi.
c.      Memberikan bekal untuk memanfaatkan bahan dan cara pemikiran, cara-cara pendekatan dan hasil-hasil dalam IPA dan teknologi.
d.      Mengembangkan interaksi yang selaras dan disiplin-disiplin ilmu eksakta dan noneksakta.
Adapun fungsi Mata Kuliah IAD adalah:
a.      Mengembangkan apresiasi IPA dan Teknologi kepada mahasiswa noneksakta.
b.      Mendorong dan mengembangkan kemanfaatan IAD pada perkembangan diri, ilmu dan profesi para mahasiswa noneksakta.

Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir ini sering kita dengar istilah: Ilmu Alamiah Dasar (IAD), Ilmu Sosial Dasar (ISD) dan Ilmu Budaya Dasar (IBD) yang masing-masing ingin membuka pagar-pagar yang membatasi disiplin-disiplin yang membentuk masing-masing kelompok ilmu itu. Sehubungan dengan disiplin kami maksudkan the scientific study of some aspect or segment of reality. Sebagai contoh disiplin, misalnya sosiologi, fisika dan kritik musik.
Biasanya disiplin-disiplin yang tergolong IAD adalah : fisika, kimia, astronomi, geologi, meteorologi, serta biologi. Lima yang terdahulu mewujudkan ilmu-ilmu fisis, sedang yang terakhir ilmu-ilmu biotis (dengan perincian utama : zologi, fitologi dan fisiologi manusia). Adapun ISD meliputi dua kelompok utamanya; studi manusia dan masyarakat dan studi lembaga-lembaga sosial. Yang terdahulu terdiri atas psikologi, sosiologi dan antropologi, sedang yang kemudian terdiri atas ekonomi dan politik.
IBD biasanya dibagi atas tiga kelompok. Pertama, seni: (sastra, musik, seni rupa, seni tari dan berpidato), Sejarah, agama dan filsafat. Penjelasan lanjut mengenai beberapa disiplin yang masuk IBD adalah sebagai berikut :
Sejak manusia hidup dalam kondisi sederhana, seni menem­pati posisi yang penting dalam kehidupan sehari-hari. Sejarah umat manusia juga menunjukkan bahwa di dalam seni itu terdapat beber­apa dari kebanyakan ekspresi manusia yang menojol dalam pengertianya atas eksitensinya sendiri. Sastra yang diajarkan di sekolah dan perguruan tinggi berpendekatan kritik leterer, di dalamnya tercakup hakikat sastra, analisisnya, evaluasinya dan tempatnya di dalam hidup manusia. Adapun seni rupa dan musik
Sejarah yang diajarkan sebagai disiplin yang menelaah manusia dalam dimensi waktu dengan mengutamakan telaahannya pada massa lampaunya. Manusia di situ dilukiskan sebagai ciptaan Allah, makhluk pencipta budaya dan makhluk pencipta peradaban. Melalui perubahan budaya dan perubahan peradaban, pengajar sejarah bermaksud mengartikan isi pengalaman buat manusia di masa lampau serta kondisinya sekarang sebagaimana terdapat dalam berbagai kelompok kehidupan. Mahasiswa yang mem­pelajari sejarah diharapkan menemukan identitasnya sebagai pribadi, sebagai anggota masyarakat, agama, sebagai warga suatu nasional dan-warga umat manusia. Sehubungan itu sejarah kebu­dayaan haruslah lebih ditonjolkan dari sejarah politik dan sejarah ekonomi.
Retorika yang terbagi menjadi jenis lisan dan yang tertulis acapkali dipandang sebagai suatu keterampilan belaka dengan akibat bahwa yang dicapai melalui retorika tertulis hanyalah materi obyektif atau mekanisme mengungkapkan berdasarkan tata bahasa melalaui komposisi tertulis. Padahal tujuan yang sebenarnya dari retorika tertulis adalah melatih mahasiswa untuk menulis prosa dengan idiom yang baik dalam gaya bahasa yang berlaku ber­dasarkan logika yang layak. Melalui latihan yang banyak di bawah bimbingan dosen yang cakap, retorika tertulis harus mampu memberikan keterampilan untuk meneruskan berdalih, membukti­kan dan menghimbau.













BAB III
KESIMPULAN

Istilah-istilah IAD, ISD dan IBD sama sekali tak mengata­kan bahwa mata kuliah dengan nama-nama tersebut masing-masing memperkenalkan dasar-dasar dari ilmu-ilmu alamiah, ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu budaya. Yang benar adalah bah­wa masing-masing itu ingin membuka pagar-pagar yang mem­batasi disiplin-disiplin yang membentuk masing-masing kelompok.
1. Ilmu Sosial Dasar (ISD)
2. Ilmu Budaya Dasar (IBD)
3. Ilmu Alamiah Dasar (IAD).

                Ketiga mata kuliah dasar tersebut di atas diwujudkan bagi se­mua mahasiswa dengan ketentuan bahwa mahasiswa bidang pengetahuan keahlian berada di dalam ruang lingkup perhatian salah satu mata kuliah dasar tersebut tidak diwajibkan mengi­kuti mata kuliah yang bersangkutan.

Untuk menjawab bermacam-macam persoalan dan tantangan-tantangan dalam kehidupan ini, lahirlah berma­cam-macam cabang ilmu pengetahuan seperti di atas.
Dari berbagai ragam ilmu pengetahuan yang berinduk dari filsafat tersebut pada garis besarnya dapat dikelom­pokkan menjadi tiga kelompok besar, yaitu:
1.         Ilmu-ilmu Alamiah (Natural Sciences), yang meliputi fisika, kimia, astronomi, biologi, botani dan sebagainya.
2.         Ilmu-ilmu Sosial (Social Sciences), yang terdiri dari: sosiologi, antropologi, psikologi, ekonomi, politik, seja­rah, hukum dan sebagainya.
3.         Ilmu-ilmu Budaya (Humanities) yang terdiri dari: cinta kasih, agama, ilmu, budaya, kesenian, bahasa, kesusas-teraan dan sebagainya.


DAFTAR PUSTAKA

Widagadho Djoko, dkk. 1999. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta : PT Bumi Aksara
W.M.M. Supartono. 1992 : Ilmu Budaya Dasar. Jakarta:Ghalia Indonesia
Noto Widagdo Rohiman, 2002. Ilmu Budaya Dasar Berdasarkan Al-Qur’an dan Hadis. Jakarta: PT Grafinda Peksada.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar