Rabu, 21 Desember 2011

CABANG-CABANG ILMU HADITS



  I.            PENDAHULUAN
Ilmu hadits menurut ulama Mutaqaddimim adalah ilmu pengetahuan yang membicarakan tentang cara-cara persambungan hadits sampai kepada Rasul SAW., dari segi hal ihwal para perawinya, kedabitan, dan dari bersambung tidaknya Sanad, dan sebagainya.
Pada perkembangan selanjutnya, oleh Ulama Mutaakhirin, ilmu hadits ini di pecah menjadi dua, yaitu ilmu hadits Riwayah dan ilmu hadits Dirayah. Pengertian yang dianjurkan oleh Ulama Mutaakhirin itu sendiri, dimasukkan kedalam pengertian ilmu hadits Dirayah.


  II.          PEMBAHASAN
1.    Ilmu Rijal al-Hadits
Ilmu Rijal al-hadits, ialah: “Ilmu untuk mengetahui para rawi hadits dalam kapasitasnya sebagai perawi hadits”.
Ilmu Rijal al-hadits ini lahir bersama-sama dengan periwayatan hadits dalam Islam dan mengambil posisi khusus untuk mempelajari persoalan-persoalan di sekitar sanad.
Diantara kitab yang paling tua yang menguraikan tentang sejarah para perawi thabaqat adalah karya Muhammad Ibnu Sa’ad (W. 230 H) yaitu Thubaqat al-Kubra’ dan karya Khalifah Ibnu ‘Ashfari (W. 240 H) yaitu Thabaqat al-Ruwwa’h dan lain-lain.[1]
Kitab-kitab yang disusun dalam ilmu ini banyak macamnya. Ada yang hanya menerangkan riwayat-riwayat ringkas dari pada sahabat saja. Ada yang menerangkan riwayat-riwayat umum para perawi-perawi. Ada yang menerangkan nama-nama yang berupa tulisan berlainan yang di dalam ilmu hadits disebut mutalif  dan mukhalif.[2]
Dan ada yang menerangkan sebab-sebab dipandang adil dengan menyebut kata-kata yang dipakai untuk itu serta martabat-martabat perkata. Ada juga yang hanya menyebut tanggal wafat. Disamping itu ada pula yang hanya menerangkan nama-nama yang terdapat dalam satu-satu kitab, atau beberapa kitab.[3]


2.    Ilmu Al-Jarh Wa At-Ta’adil
Ilmu Al-Jarh yang secara bahasa berarti “luka cela, atau cacat”, adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari kecacatan para perawi, seperti pada keadilan dan kedhabitannya. Para ahli hadits mendefinisi Al-Jarh dengan: “kecacatan pada perawi hadits disebabkan oleh suatu yang dapat merusak keadilan atau kedhabitan perawi”.[4]
Ilmu Al-Jarh Wa At-Ta’adil adalah ilmu yang menerangkan tentang cacat-cacat yang dihadapkan kepada perawi dan tentang penta’akdilannya (memandang lurus perangai para perawi) dengan memasuki kata-kata yang khusus dan yang menerima atau menolak riwayat mereka.[5]
Kitab-kitab yang disusun mengenai jarah dan takdil ada beberapa macam. Ada yang menerangkan orang-orang yang disusun mengenai jarah, dan takdil, ada beberapa macam. Ada yang menerangkan orang-orang yang dipercayai saja. Ada yang menerangkan orang-orang yang lemah saja. Atau orang-orang yang menadlieshan hadits. Dan ada pula yang melengkapi semuanya. Disamping itu, ada yang menerangkan perawi-perawi suatu kitab saja atau beberapa kitab dan ada yang melengkapi segala kitab.
Diantara kitab-kitab yang menerangkan orang-orang yang dipercayai saja, ialah: Kitab As-Siqat, karangan Aljaly (261 H) dan karangan Abu Hatim Ibnu Hibban Al-Busti. Dan yang menerangkan orang-orang yang lemah-lemah saja ialah: Kitab Ad-Duafa, karangan Al-Bukhari dan Kitab Ad-Duafa karangan Ibnu Jauzi (587 H).[6]


3.    Ilmu Illal Al-Hadits
 Illal adalah jamak dari Illal, artinya penyakit. Illal menurut istilah ahli hadits adalah suatu sebab yang tersembunyi yang dapat mengurangi status keshahihan hadits padahal akhirnya tidak nampak ada cacat.
Sedangkan ilmu Illal hadits adalah ilmu yang menerangkan sebab-sebab yang tersembunyi dan tidak nyata , yang dapat merusakkan hadits. ilmu ini adalah ilmu yang tersamar bagi banyak ahli hadits. Ia dapat dikatakan jenis ilmu hadits yang paling dalam dan rumit bahkan dapat dikatakan inilah intinya yang termulia.[7]
Adapun yang dimaksud dengan ilmu Illal Al-Hadits, menurut Muhaddisin adalah: “Ilmu membahas sebab-sebab yang tersembunyi, yang dapat mencacatkan kesasihan hadits yang munqathi, menyebut Marfu’ terhadap hadits yang mauquf, memasukkan hadits kedalam hadits lain, dan hal-hal yang seperti itu”.[8]
Menurut al-Hakim, ilmu Illal hadits ialah ilmu yang berdiri sendiri, selain dari ilmu shalih dan dha’if. Jarh dan Ta’dil. Ia menerangkan Illat hadits yang tidak termasuk kedalam pembahasan Jarh, sebab hadits yang majruh adalah hadits yang gugur dan tidak dipakai. ‘Illat hadits banyak kepercayaan, yaitu orang-orang yang menceritakan sesuatu hadits yang padahal mempunyai ‘Illat, akan tetapi ‘Illat itu tersembunyi.[9]


4.    Ilmu Gharib Al-Hadits
Ilmu Gharib Al-Hadits yang dimasukkan dalam ilmu hadits ini ialah bertujuan menjelaskan satu hadits yang dalam matannya terdapat lafaz yang pelik, dan yang susah difahami, karena jarang dipakai, sehingga ilmu ini akan membantu dalam memahami hadits tersebut.[10]
Ilmu ini membahas dan menjelaskan hadits Rasulullah SAW., yang sukar diketahui dan dipahami oleh banyak karena telah berbaur dengan bahasa lisan atau bahasa Arab pasar.[11]
Para Ulama berusaha menjelaskan apa yang dikandung oleh kata-kata yang gharib itu dengan mensyaratkannya. Bahkan ada yang berusaha mensyaratkan secara khusus hadits-hadits yang terdapat kata-kata gharib. Diantara para Ulama yang pertama kali menyusun hadits-hadits yang gharib, ialah Abu Ubaidah Ma’mar Bin Matsna Al-Taymi Al-Bisri (W. 210 H) dan Abu Al-Hasan Bin  Isman Al-Mozini Al-Nahawi(W. 204 H).[12]
Ada beberapa cara menafsirkan hadits-hadits yang mengandung lafazh yang gharib ini, diantaranya:
a.       Dengan hadits yang sanadnya berlainan dengan matan yang mengandung lafazh yang gharib tersebut.
b.      Dengan menjelaskan dari para sahabat yang meriwayatkan hadits atau sahabat lain yang tidak meriwayatkannya, tetapi paham akan makna gharib tersebut.
c.       Penjelasan dari rawi selain sahabat.[13]


5.      Ilmu Asbabi Wurud al-Hadis
Kata Asbab adalah jama’ dari sabat, menurut ahli bahasa diartikan dengan “al-habi” (tali) saluran, yang artinya dijelaskan sebagai: “segala yang menghubungkan satu benda dengan benda lainnya”.
Menurut istilah adalah: “segala sesuatu yang menganyarkan pada tujuan”. Sedangkan kata wurud bisa berarti sampai, muncul, dan mengalir seperti: “air yang memancar, atau air yang mengalir”.
Dalam arti yang luas, al-Suyuthi merumuskan pengertian Asbab Wurud Al-Hadits dengan: “sesuatu yang membatasi arti suatu hadits, baik berkaitan dengan arti umum atau khusus, mutlak atau muqayyad, dinasakhkan dan seterusnya”, atau “sesuatu yang dimaksud oleh sebuah hadits saat kemunculannya”.[14]
Ulama yang menyusun mula-mula menyusun kitab ini dan kitabnya ada dalam masyrakat ialah Abu Hafas Ibnu Umar Muhammad Ibnu Raja al-Ukbari, dari murid Ahmad (309 H). Dan kemudian dituliskan pula oleh Ibrahim Ibnu Muhammad, yang terkenal dengan nama Ibnu Hamzah al-Husaini (1120 H), dalam kitabnya Al-Bayan Wat Tafsir yang bertahan dicetak pada tahun 1329 H.[15]


6.    Ilmu Fannul Nubanat
Dimaksud dengan ilmu ini adalah: “Ilmu yang mengetahui nama Orang-Orang yang tidak disebut didalam matan, atau didalam sanad”.[16]
Kata “Matan” atau “al-matn” menurut bahasa berarti mairtafaiamin al-Ardhi. Menurut istilahnya “Suatu kalimat tempat berakhirnya sanad”.[17]
Kata “Sanad” menurut bahasa adalah “Sandaran atau sesuatu yang kita jadikan sandaran”. Menurut istilah al-Badru Bin Jama’ah dan al-Thiby yaitu: “Berita tentang jalanya matan”.[18]
Diantara yang menyusun kitab ini , al-Khatib al-Baghdady. Kitab al-Khatib itu diringkaskan dan dibersihkan oleh An Nawawy dalam kitab al-Isyarat Ila Bayani Asmail Mubhanat.


7.    Ilmu Talfiqil Hadits
“Ilmu yang membahas tentang cara menggumpulkan hadits-hadits yang isinya berlawanan.
Cara mengumpulkannya adalah dengan mentakhshishkan yang lamm, atau mentagyidkan yang mutlaq, atau dengan memandang banyak sekali terjadi.[19]
Ilmu ini dinamai juga dengan ilmu Mukhtaliful Hadits. Diantara para Ulama besar yang telah berusaha menyusun ilmu ini ialah: Al- Imamusy Syafi’y (240 H), Ibnu Qutaibah (276 H), Ath Thahawy (321 H), dan Ibnu Jauzy (597 H).
Kitabnya bernama Al-Tahqiq. Kitab ini sudah disyaratkan oleh Al Ustadz  Ahmad Muhammad Syakir dan baik sekali nilai-nilainya.[20]
Perawi-perawi yang tidak tersebut namanya dalam shanih Bukhari diterangkan dengan selengkapnya oleh Ibnu Hajar Al-‘Asqallany dalam Hidayatus Sari Muqaddimah Fathul Bari.



8.    Ilmu Nasikh Wal Mansukh
Ilmu Nasikh Wal Mansukh yaitu ilmu yang menerangkan hadits-hadits yang sudah dimasukkan dan yang menasihkannya.[21]
Apabila didapati suatu hadits yang maqbul, tidak ada yang memberi perlawanan maka hadits tersebut dinamai muhkam. Namun jika dilawan oleh hadits yang sederajatnya dinamai mukhatakiful hadis.[22]
Dari hadits lain menyatakan Ilmu Nasikh Wal Mansukh yaitu ilmu yang membahas hadits-hadits yang berlawanan yang tidak memungkinkan untuk dipertemukan, karena materi (yang berlawanan) yang ada akhirnya terjadilah saling menghapus dengan ketetapan bahwa yang datang terdahulu disebut mansukh dan yang datang kemudian dinamakan Nasikh.[23]
Untuk mengetahui Nasikh dan Mansukh ini bisa melalui beberapa cara:
a.       Dengan penjelasan dari nash atau syari sendiri, yang dalam hal ini ialah Rasulullah SAW.
b.      Dengan penjelasan dari para sahabat.
c.       Dengan mengetahui tarikh keluarnya hadits serta sebab wurud hadits. Dengan demikian akan diketahui nama yang datang lebih dulu dan mana yang datang kemudian.


9.    Ilmu Musthala Ahli Hadits
Ilmu Musthala Ahli Hadits ialah ilmu yang menerangkan pengertian-pengertian (istilah-istilah yang dipakai oleh ahli-ahli hadits).
Ilmu ini mula-mula mengusahakannya, ialah Abu Muhammad Ar Ramahurmuzy (360 H). Kitab ini boleh dikatakan hampir lengkap isinya. Sesudah itu barulah para Ulama meluaskan gelanggang ilmu ini. Yang mula-mula mengusahakannya Al Hakim Muhammad Ibnu Abdillah An Naisabury.
Sesudahnya, Abu Nu’aim Al-Ashbahany. Kemudian datangnya Ahmad yang terkenal dengan sebutan Al-Khatieb (463 H) lalu menyusun berbagai-bagai kitab dalam pengetahuan ini
Ulama-ulama yang datang sesudahnya, boleh dikatakan berpegang kepada kitab-kitabnya.
Sesudah itu datang Al-Hafidh Ibnu Shalah (463 H) menyusun kitabnya yang terkenal dengan nama Muqaddamah Ibnu Shalah. Kitab ini mendapat sambutan hangat dari Ulama.
Zainuddin Al-‘Iraqy (805 H) menadhamkan kitab Ibnush Shalah dengan memberi beberapa tambahan dalam seribu baris. Kitab ini diselesaikan pada tahun 768 H dan Disyarahkan pada tahun 771 H. Kitab ini kemudian diberi komentar oleh Al-Biqa’y (855 H) dalam kitabnya yang dinamai An Nukatul Waiyah.
Diantara kitab-kitab ringkas yang mengenai ilmu ini, ialah Nukhbatul Fikar dan Syarahnya Muzhatunnadhar, susunan Al ‘Asqalany yang telah disyaratkan lagi oleh manyak Ulama yang datang sesudahnya.
Diantara kitab Mushthalah yang tinggi nilainya ialah, Taujihun Nadhar Fi Ushulil Atsar, karangan Asy Syaikh Thahir Al jaza-iry dan Qawa’idul, Tahdiets karangan Jamaludin Al Qasimy.[24]


10.     Cabang Ilmu Hadits Lainnya
a.       Ilmu Tarikh Al-Ruwah
Ilmu untuk mengetahui para perawi hadits yang berkaitan dengan usaha periwayatan mereka terdapat hadits”
Dengan ilmu ini akan diketahui keadaan dan identitas para perawi, seperti kelahirannya, wafatnya guru-gurunya, masa waktu mereka mendengar hadits dari gurunya. Siapa orang yang yang meriwayatkan hadits darinya, tempat tinggal mereka, tempat mereka mengadakan lawatan, dan lain-lain. Sebagai bagian dari Ilmu Rijal hadis, ilmu ini mengkhususkan pembahasannya secara mendalam pada sudut kesejarahan dari orang-orang yang terlibat dalam periwayatan.
Hubungan dengan ilmu Thabaqat Al-Ruwah, diantara Ulama terdapat perbedaan pendapat. Ada Ulama membedakannya secara khusus, tetapi ada juga yang mempersamakannya. Menurut Al-Suyuthi, antara ilmu Thabaqat Al-Ruwah dengan ilmu Tarikh al-Ruwah adalah sama saja dengan antara umum dan khusus, keduanya bersatu dalam pengertian yang berkaitan dengan para perawi, tetapi ilmu tarikh al-Ruwah menyendiri dalam hubungannya dengan kejadisn-kejadisn yang baru. menurut al-Sakhhawi, bahwa Ulama Mutaakhirin membedakan antara kedua disiplin ilmu tersebut. Menurut mereka bahwa ilmu Tarikh al-Ruwah, melalui eksistensinya memperhatikan hal ihwal perawi dan melalui sifatnya memperhatikan kelahiran dan wafat mereka.
Jadi ilmu Tarikh al-Ruwah ini merupakan senjata yang ampuh untuk mengetahui keadaan rawilif yang sebenarnya, terutama untuk membongkar kebodohannya para perawi.[25]


b.    Ilmu Mukhtalif Al-Hadits
Ilmu Mukhtalif Al-Hadits ialah ilmu yang membahas hadits-hadits, yang menurut lahirnya saling bertentangan atau berlawanan, kemudian pertentangan tarsebut dihilangkan atau dikompromikan antara keduanya sebagaimana membahas hadits-hadits yang sulit dipahami kandungannya, dengan menghilangkan kesulitannya serta menjelaskan hakikatnya.
Definisi yang lain menyebutkan: “Ilmu yang membahas hadits-hadits yang menurut lahirnya saling bertentangan, karena adanya kemungkinan dapat dikompromikan, baik dengan cara mentaqyid kemutlakannya, atau mentakhsis keumumannya, atau dengan cara membawanya kepada beberapa kejadian yang relevan dengan hadits tersebut, dan lain-lain”.[26]
Ulama yang pertama kali menghimpun ilmu Mukhtalif Al-Hadits ini adalah Imam Al-Syafi’i. Tapi ada juga yang mengatakan bahwa sebenarnya Al-Syafi’i tidak berniat untuk menyusun ilmu ini, karena pada penyusunan tersebut mulanya dimaksudkan untuk menjelaskan permasalahan-permasalahan yang ada dalam kitab “Al-Umm”. Akan tetapi pendapat ini tidak kuat, sebab Al-Syafi’i menyusun dalam kitab tertentu dengan nama Muhtalif Al-Hadits yang dicetak dibagian pinggiran juz ke 7 dari kitab “Al-Umm”.


III.          KESIMPULAN
Ilmu hadits adalah ilmu pengetahuan yang membicarakan tentang cara-cara persambungan hadits sampai kepada Rasul SAW., dari segi hal ihwal para perawinya, kedabitan, dan dari bersambung tidaknya Sanad, dan sebagainya.
Ilmu Rijal Al-Hadits, ialah: “Ilmu untuk mengetahui para rawi hadits dalam kapasitasnya sebagai perawi hadits”.
Ilmu Al-Jarh, yang secara bahasa berarti “luka cela, atau cacat”, adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari kecacatan para perawi, seperti pada keadilan dan kedhabitannya. Para ahli hadits mendefinisi Al-Jarh dengan: “kecacatan pada perawi hadits disebabkan oleh suatu yang dapat merusak keadilan atau kedhabitan perawi”.
ilmu I’llal Al-Hadis adalah ilmu yang menerangkan sebab-sebab yang tersembunyi dan tidak nyata , yang dapat merusakkan hadits. ilmu ini adalah ilmu yang tersamar bagi banyak ahli hadits. Ia dapat dikatakan jenis ilmu hadits yang paling dalam dan rumit bahkan dapat dikatakan inilah intinya yang termulia.
Ilmu Gharib Al-Hadis bertujuan menjelaskan satu hadits yang dalam matannya terdapat lafaz yang pelik, dan yang susah difahami, karena jarang dipakai, sehingga ilmu ini akan membantu dalam memahami hadits tersebut.
Menurut istilah kata asbab adalah: “segala sesuatu yang menganyarkan pada tujuan”. Sedangkan kata wurud bisa berarti sampai, muncul, dan mengalir seperti: “air yang memancar, atau air yang mengalir
Kata “Matan” atau “al-matn” menurut bahasa berarti mairtafaiamin al-Ardhi. Menurut istilahnya “Suatu kalimat tempat berakhirnya sanad”.
Kata “Sanad” menurut bahasa adalah “Sandaran atau sesuatu yang kita jadikan sandaran”. Menurut istilah al-Badru Bin Jama’ah dan al-Thiby yaitu: “Berita tentang jalanya matan”.
Ilmu Talfiqil Hadits ialah ilmu yang membahas tentang cara mengumpulkan antara hadits yang berlawanan lahirnya.
Ilmu Nasikh Wal Mansukh yaitu ilmu yang menerangkan hadits-hadits yang sudah dimasukkan dan yang menasihkannya.
Untuk mengetahui Nasikh dan Mansukh ini bisa melalui beberapa cara:
d.      Dengan penjelasan dari nash atau syari sendiri, yang dalam hal ini ialah Rasulullah SAW.
e.       Dengan penjelasan dari para sahabat.
Dengan mengetahui tarikh keluarnya hadits serta sebab wurud hadits. Dengan demikian akan diketahui nama yang datang lebih dulu dan mana yang datang kemudian.
Ilmu Musthala Ahli Hadits ialah ilmu yang menerangkan pengertian-pengertian (istilah-istilah yang dipakai oleh ahli-ahli hadits).





DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Muhammad. Ulumul Hadits. Bandung: CV Pustaka Setia. 2000
AL-Qaththan, Syaikh Manna’. Pengantar Study Ilmu Hadits. Jakarta Timur: Pustaka Al-Kausar. 2005
Ash-Syiddieqy, Muhammad Hasbi. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits. Semarang: PT Pustaika Rizki Putra. 1999
As-Shalih, Subht. Membahas Ilmu-Ilmu Hadits. Jakarta. Pustaka Firdaus. 2002
Suparta, Munzier. Ilmu Hadits. Jakarta. PT Raja Grafindo Persada. 2002



[1] Drs. Munzier Suparta, M.A, Ilmu Hadis, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002), hal 30
[2] Drs. H Muhammad Ahmad – Drs. M. Mudzakir, Ulumul Hadis, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2000), hal 57
[3] Teungku Muhammad Hasbi Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis, (Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 1999), hal 131
[4] Drs. Munzier Suparta, M.A, Ilmu Hadis. . .,hal 31
[5] Syaikh Manna’ Al-Qaththam, Pengantar Studi Ilmu Hadits, (Jakarta Timur: Pustaka Al-Kawisar, 2005), hal 82
[6] Drs. H Muhammad Ahmad – Drs. M. Mudzakir, Ulumul Hadis. . ., hal 59
[7] Syaikh Manna’ Al-Qaththam, Pengantar Studi Ilmu Hadits. . ., hal 98
[8] Drs. Munzier Suparta, M.A, Ilmu Hadis. . ., hal 35
[9] Ibid. hal 35
[10] Syaikh Manna’ Al-Qaththam, Pengantar Studi Ilmu Hadits. . ., hal 95
[11] Dr. Subht As-Shalih, Membahas Ilmu-Ilmu Hadis, (Jakarta: Pustaka Firdaus), hal 115
[12] Drs. Munzier Suparta, M.A, Ilmu Hadis. . ., hal 142
[13] Ibid. hal 40
[14] Drs. Munzier Suparta, M.A, Ilmu Hadis. . ., hal 38
[15] Drs. H Muhammad Ahmad – Drs. M. Mudzakir, Ulumul Hadis. . ., hal 63
[16] Teungku Muhammad Hasbi Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis. . ., hal 138
[17] Ibid. hal 139
[18] Ibid. hal 140
[19] Teungku Muhammad Hasbi Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis. . ., hal 143
[20] Drs. H Muhammad Ahmad – Drs. M. Mudzakir, Ulumul Hadis. . ., hal 64
[21] Teungku Muhammad Hasbi Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis. . ., hal 141
[22] Drs. H Muhammad Ahmad – Drs. M. Mudzakir, Ulumul Hadis. . ., hal 62
[23] Drs. Munzier Suparta, M.A,  Ilmu Hadis. . ., hal 36
[24] Teungku Muhammad Hasbi Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis. . ., hal 143
[25] Drs. Munzier Suparta, M.A, Ilmu Hadis. . ., hal 33
[26] Drs. Munzier Suparta, M.A, Ilmu Hadis. . ., hal 42

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar